Selasa, 10 Maret 2009

SOCIO-CULTURAL TRANSFORMATION OF AGRICULTURE TO INDUSTRIAL SOCIETY (CASE STUDY AT THE INDUSTRIAL AREA OF CAMPAKA PURWAKARTA) BY: ENDANG KOMARA

ABSTRACT



Socio-cultural transformation at the industrial area of Campaka is marked by society structure changed from agriculture to industry. This research objective is to analyze values changes which can support and pursue development. Attitude as especial activator of socio-cultural transformation. Besides, also society achievement motive, discipline, appreciation of time, and work orientation.
Research method is combination of qualitative and quantitative approach which emphasize to qualitative approach. Consideration that this research focus is description of process and conduct meaning interpretation. This research is conducted at six countryside which consist of industrial and agrarian community. Case study at community unit, and expression change of value, attitude, achievement motive, discipline, appreciation of time and work orientation, representing fundamental research strategy. Data collected through depth interview, participant observation, usage of document. Quantitative data collected by using questionaire.
The result is if values change support development hence will be accomodated and harmonized with local culture; while if values change pursue development will change and lose by it self; and if change definitely pursue development hence the value will be abolished. Then if rational attitude and behavior support the socio-cultural change in society hence will become especial activator in transformation process from agrarian to industrial society. Also if the society socio-culturally transformed from agrarian to industrial society hence achievement motive, discipline, appreciation to time and work orientation will become values embraced by the society.

Key Words: Case study, Industrial are, socio cultural, transformation, agriculture, and industrial society.























BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Transformasi sosial budaya di wilayah industri dicirikan dengan terjadinya perubahan struktur masyarakat agraris menjadi masyarakat yang berstruktur industri. Hal ini berimplikasi pada perubahan bentuk atau wujud mata pencaharian, pola hidup, perilaku, cara berpikir, dan perubahan yang diakibatkan oleh intervensi pendatang. Misalnya sebelum adanya daerah industri kehidupan masyarakat bersifat monoton bertani, akan tetapi setelah hadirnya struktur masyarakat industri kehidupan masyarakat menjadi bervariasi, ada yang menyewakan rumah, menjadi buruh pabrik dan berdagang. Selain itu, dalam struktur masyarakat agraris nilai sosial gotong royong yang sangat kuat telah berubah. Dalam masyarakat industri menjadi individualistis, baik dalam hal bercocok tanam, aktivitas tolong menolong maupun kerja bakti. Karena kebutuhan masyarakat industri sangat kompleks dan hanya dapat diselesaikan dengan pembagian tugas.
Sejalan dengan pembangunan di wilayah JABOTABEK (Jakarta, Bogor, Tanggerang dan Bekasi) menyebabkan Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat mendapatkan pengaruh dari pembangunan wilayah tersebut, karena lahan-lahan yang ada di JABOTABEK untuk perkembangan industri semakin terbatas, sedangkan di Kabupaten Purwakarta relative masih tersedia, sehingga kawasan industri berkembang di Kabupaten ini walaupun dengan resiko mengorbankan lahan pertanian, terutama yang berada di Wilayah Industri campaka. Pergeseran lahan pertanian menjadi lahan industri merupakan tindak lanjut dari adanya Surat Keputusan Gubernus Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 593/SK 629-Bappeda/90, tentang Pemanfaatan Lahan Kawasan Industri di Jawa Barat tertanggal 16 Mei 1990. Menurut SK tersebut bahwa Wilayah Campaka dialokasikan untuk kegiatan industri, baik industri kecil maupun aneka industri. Bappeda Kabupaten Purwakarta mengalokasikan lahan seluas 159 Ha, yang berada di Desa Cikumpay dan Campaka dengan jenis industri pakaian jadi (garment), percetakan dan elektronik. Alasan Wilayah Campaka digunakan untuk kawasan industri disebabkan wilayah ini morfologinya datar, dan lahan pertaniannya non teknis atau sawah tadah hujan.
Akibat pergeseran penggunaan lahan dari lahan pertanian menjadi lahan industri mengakibatkan menyempitnya lapangan pekerjaan di bidang pertanian dan memberi peluang tersedianya lapangan kerja di bidang industri, tetapi nampaknya masyarakat yang berada di wilayah industri Campaka belum siap terhadap peluang dan tantangan yang terjadi, sehingga banyak petani atau masyarakat mencari lapangan kerja di luar industri seperti menjadi pedagang atau menjadi buruh bangunan, akibatnya banyak pendatang dari luar wilayah industri Campaka yang lebih siap sebagai tenaga kerja industri dengan menggeser tenaga kerja lokal. Adanya pergeseran penggunaan lahan pertanian ke lahan industri sebenarnya harus diantisipasi sebelumnya oleh masyarakat di wilayah ini dengan tujuan agar pergeseran yang terjadi tidak menyebabkan kualitas hidup menjadi menurun melainkan sebagai suatu peluang dan tantangan yang harus dapat meningkatkan kualitas hidup di wilayah industri Campaka.
Perubahan social yang terjadi di Indonesia sebagai akibat proses pembangunan nasional yang menekankan pada bidang ekonomi dengan anggapan bahwa bidang lainnya akan seiring maju dan berkembang. Sektor industri menjadi cukup mononjol yang banyak menyita perhatian masyarakat, karena industrialisasi secara histories merupakan masa kondisi ekonomi yang banyak menguntungkan ekonomi nasional. Banyak Negara di dunia, yang menunjukkan kemajuan bangsanya ditandai dengan majunya industri di Negara itu. Seperti istilah yang sekarang muncul ‘Negara Industri maju’, di Asia dikenal NIC (New Industrial Countries) seperti Jepang, hongkong, Singapura dan Korea atau sebutan orang Barat lima Negara ‘Macan Asia’.
Berbeda dengan negara industri, yaitu negara agraris yang menjadi sumber utama bermatapencaharian sebagian besar penduduk di bidang pertanian. Ciri masyarakatnya terbelakang, kurang maju, atau sedang berkembang, tradisional, pendapatan perkapita masih rendah, jumlah penduduk banyak, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan. Rendahnya produktivitas pada masyarakat agraris dibandingkan dengan masyarakat industri, memicu seluruh anggota negara berusaha memacu kondisi masyarakatnya kea rah masyarakat yang berfokus pada industri.
Perubahan dari kondisi masyarakat agraris yang subsistem kea rah industri yang modern, transformasi sosial budayanya tidaklah secara otomatis akan menjamin keberhasilan pembangunan di Indonesia. Itulah sebabnya proses industrialisasi diupayakan berjalan secara efektif tanpa mengorbankan pembangunan lainnya, menurut Habibie (1995:11) proses industrialisasi perlu mempertimbangkan empat hal berikut:
1. Dilakukan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia, dan didukung oleh teknologi yang semakin meningkat.
2. Dikembangkan seiring dengan pola pengembangan potensi wilaah secara merata di seluruh tanah air.
3. Diselaraskan dengan nilai budaya dan tingkat perkembangan masyarakat, dan
4. Dalam upaya mengolah dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui proses industrialisasi, harus diperhatikan sisi keselarasan dan keterkaitan dengan kelestarian lingkungan demi kesinambungan pembangunan nasional.

Inti ungkapan tersebut menunjukkan bahwa industrrialisasi bermakna yang merujuk pada hakekat pembangunan nasional yaitu pada pembangunana sumber daya manusia secara optimal. Manusia yang berkualitas akan mampu menguasai teknologi sebagai alat peningkatan pemerataan dan keseimbangan pembangunan, sehingga industrialisasi dianggap sebagai motor modernisasi masyarakat, yang bisa menciptakan keserasian dan kesinambungan pembangunan nasional.
Keseimbangan dan keselarasan dalam pembangunan merupakan sesuatu hal yang dilematik. Munculnya dilema ketidakserasian antara akselarasi pembangunan fisik dan budaya yang tidak selamanya sejalan. Pembangunan ekonomi dapat meningkatkan kebutuhan materi maupun fisik, namun seringkali tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran moral, etika dan norma sosial. Pembangunan bidang non materi yang menyangkut pengembangan sosial psikologis, termasuk pendidikan amatlah sulit. Kesulitannya berkenaan dengan proses perubahan pada diri manusia dan masyarakat yang unik dalam pendeteksiannya.
Bahkan Lapiere (1946:170) menekankan bahwa dalam perubahan social, keseimbangan (equilibrium) dan ketidakseimbangan (disequilibrium) bersifat dinamis. Artinya, ketika suatu komponen sistem social tertinggal dan komponen sosial lainnya, maka masyarakat selalu bergerak kea rah keseimbangan. Tetapi keseimbangan telah tercipta ketidakseimbangan batru terjadi lagi, sehingga transisi menuju keseimbangan baru berlangsung lagi. Dengan demikian, selalu berlangsung pergantian antara keseimbangan dengan ketidakseimbangan, dengan itu tahap transisi selalu muncul.
Pendekatan proses juga digunakan oleh Germani (1981:109) bahwa transformasi sosial adalah proses yang melibatkan tiga basis modifikasi struktur socsial, yaitu: (1) tipe tindakan sosial, dari tindakan preskriptif ke tindakan efektif; (2) penerimaan terhadap perubahan; dan (3) spesialisasi pelembagaan dari diferensiasi kelembagaan yang rendah ke pelembagaan yang tinggi.
Industrialisasi pada dasarnya merupakan transformasi sosial budaya di satu pihak dapat mengandung arti proses perubahan struktur sosial, sedangkan di pihak lain mengandung makna proses perubahan atau pembaharuan nilai. Juga industrialisasi merupakan transformasi proses peminggiran otot dengan buah karya otak yang kemudian menghasilkan berbagai perubahan yang mengagumkan yang secara fisik melahirkan mesin-mesin.

B. Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka rumusan masalahnya adalah: ‘’Bagaimana Transformasi Sosial Budaya Masyarakat Agraris ke Masyarakat Industri di Wilayah Industri Campaka Purwakarta’’. Sedangkan batasan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana perubahan nilai yang dapat menunjang dan menghambat terhadap pembangunan dalam proses industrialisasi.
2. Bagaimana sikap sebagai penggerak utama dalam proses transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri.
3. Bagaimana motif berprestasi, kedisiplinan, penghargaan terhadap waktu dan orientasi kerja masyarakat agraris ke masyarakat industri.

C. Maksud dan Tujuan
Penelitian ini bermaksud untuk mempelajari, memahami, menerangkan, menganalisis dan menginterpretasikan transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri Campaka. Adapun tujuan penelitian untuk memahami, melakukan interpretasi dan melakukan analisis terhadap hal-hal berikut:
a. Perubahan nilai yang dapat menunjang dan menghambat terhadap pembangunan dalam proses industrialisasi.
b. Sikap sebagai penggerak utama dalam proses transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri.
c. Motif berprestasi, kedisiplinan, penghargaan terhadap waktu dan orientasi kerja masyarakat agraris ke masyarakat industri,

Dari hasil pemahaman, interpretasi dan analisis tersebut, penelitian ini ditujukan juga untuk mengembangkan konsep ‘’transformasi sosial budaya’’, terutama mengenai ‘’perubahan nilai yang dapat menunjang ataupun menghambat terhadap pembangunan’’, ‘’sikap sebagai penggerak utama dalam proses transformasi sosial budaya’’ serta ‘’dorongan berprestasi, kedisiplinan, penghargaan terhadap waktu, orientasi kerja’’ dalam masyarakat agraris ke masyarakat industri di wilayah Industri Campaka.

D. Hipotesis Kerja
a. Perubahan nilai akan menunjang pembangunan bila telah disesuaikan dan diharmonisasikan dengan budaya setempat, sedangkan nilai yang menghambat pembangunan akan berubah dan hilang dengan sendirinya; dan nilai yang secara definitive menghambat pembangunan harus dihapuskan.
b. Sikap dan tingkah laku rasional sebagai penggerak utama dalam proses transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri.
c. Motif berprestasi yang bertujuan untuk mencapai sesuatu secara maksimal, kedisiplinan, penghargaan terhadap waktu dan orientasi kerja merupakan nilai-nilai yang terdapat pada masyarakat industri.




BAB II
PEMBAHASAN



A. Perubahan Nilai Sosial Budaya Masyarakat
Pengumpulan data primer melibatkan pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan transformasi social budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri di Wilayah Industri Campaka. Kuesioner yang dibentuk dilakukan dengan dua pendekatan yaitu: (1) analisis kuantitatif mempergunakan analytic hierarchy process, berdasarkan lima orang responden yang terpilih secara purposive sampling yang disumsikan mewakili baik pihak pemerintah maupun pihak industri; dan (2) analisis kualitatif berdasarkan wawancara dengan karyawan pabrik, tokoh formal dan informal, serta dengan petani dan masyarakat yang relevan dengan penelitian yang dilakukan untuk mendukung hasil analisis kuantitatif.
Pengolahan data dengan mempergunakan analytic hierarchy process (AHP) untuk mengetahui faktro-faktor penting terjadinya transformasi social budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri di wilayah campaka ditampilkan dalam pembobotan terhadap tujuan (goal) dengan mempergunakan Expert Choice berdasarkan algoritma AHP yaitu dengan menyebarkan kuesioner perbandingan berpasangan. Berdasarkan hierarki awal berkaitan dengan terjadinya transformasi sosial budaya pada kerangka pemkiran diperoleh pembobotan factor penting perubahan sosial budaya, modernisasi dan ketergantungan industri.
Berdasarkan hasil pembobotan yang telah dilakukan terlihat bahwa factor penting terjadinya transformasi social budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri di wilayah industri Campaka diketahui berdasarkan bobot tertingginya adalah perubahan social (bobot=0.426), yang diikuti factor ketergantungan industrialisasi (bobot=0.361), dan factor penting terakhir adalah modernisasi (bobot=0.213). Pembobotan ini menunjukkan bahwa semakin besar hasil bobotnya memberi pengertian semakin besar pula tingkat kepentingannya (pengaruhnya) terhadap terjadinya proses transformasi sosial budaya. Hasil pengolahan dan pembahasan selanjutnya disusun berdasarkan hasil pembobotan AHP tersebut yang diawali dengan perubahan sosial, ketergantungan industri, dan modernisasi masyarakat di wilayah Campaka berikut ini.
Perubahan sosial yang menjadi faktor paling penting terjadinya transformasi sosial budaya agraris ke masyarakat industri di wilayah Campaka berdasarkan sub-sub faktor yang telah dibentuk yaitu determinan struktural; proses dan mekanisme; serta arah dan perubahan dengan kriteria-kriteria dan hasil pembobotannya sebagai berikut: Perubahan sosial (0.426), determinan struktural (0.295), proses dan mekanisme (0.433), arah dan perubahan (0.272); perubahan populasi (0.461), dislokasi (0.359), mekanisme percepatan (0.178), pergerakan social (0.152), konflik politik (0.209), akomodasi (0.354), aktivitas pengusaha (0.106), perubahan struktural (0.344), pengaruh kebijakan (0.165) dan konsekwensi (0.491).
Hasil pembobotan terbesar yang merupakan faktor yang penting terjadinya perubahan sosial masyarakat Campaka merupakan bagian dari proses dan mekanisme (bobot=0.433). Hal ini menunjukkan bahwa proses dan mekanisme dalam perubahan sosial dapat ditinjau sebagai proses interaksi sosial yang terjadi dalam diri manusia. Proses yang menyangkut perubahan aspek kognitif manusia yang termotivasi oleh lingkungan sosialnya. Pendapat Kurt Lewis yang diperluas oleh Schein (1964:362-378) bahwa perubahan sosial itu tidak lain merupakan rangkaian proses kognitif yang terdiri dari proses unfreezing, changing, dan refreezing. Proses psikologi ini tidak lain merupakan proses keseimbangan kognitif, indiividu dimotivasi untuk berubah (unfreezing) kemudian berkembang oleh respon baru (changing) sehingga terintegrasi dan terjadi kestabilan (refreezing) pada individu itu sendiri.
Teori kontemporer perubahan sosial terjadi tergeneralisasikan dengan tujuan untuk menjelaskan proses perubahan lebih jauh pada masa lalu dan sekarang Hermann Strasser dan Susan C. Randall (1981:16) mengidentifikasikan atribut-atribut atas perubahan ini yaitu: ‘’derajat perubahan’’, rentang waktu, arah rata-rata perubahan, dan jumlah kekerasan yang terlibat. Semua teori perubahan mengandung tiga unsure utama yaitu determinasi struktural, proses dan mekanisme, serta arah dan perubahan akan tetap berhubungan satu sama lainnya, sehingga perubahan sosial merupakan proses sosial yang terjadi dalam masyarakat, yang meliputi seluruh aspek kehidupan dan pemikiran manusianya.
Pada proses dan mekanisme terdapat kriteria terpenting dalam akomodasi (bobot=0.354) yang menunjukkan bahwa proses dan mekanisme pada perubahan social masyarakat Campaka disebabkan oleh akomodasi menjadi wilayah industri di daerah ini. Masyarakat Campaka yang sebelumnya memiliki tatanan sosial budaya agraris ditransformasikan ke dalam pengejaran-pengejaran ekonomi, sama halnya dengan akomodasi keyakinan dengan kebutuhan sosial tertentu, baik kebutuhan praktis sehari-hari dari strata tertentu maupun kebutuhan insitusional yang seolah mengharuskan terjadinya penyesuaian dengan kerangka sosial yang ada.

B. Ketergantungan Industrialisasi
Ketergantungan industrialisasi sebagai faktor penting kedua (bobot=0.361) terjadinya transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri di wilayah Campaka terdapat tiga komponen utama, yaitu: (1) modal asing; (2) pemerintah lokal di negara-negara setelit; dan (3) kaum borjuisnya. Adapun kriteria-kriteria berdasarkan ketiga komponen tersebut akan dipergunakan (1) perkembangan kaum borjuis; (2) kebebasan berdagang; (3) perkembangan pasar dunia; (40 keseragaman cara produksi; dan (5) kesamaan kehidupan.
Berikut ini hasil pembobotan model hierarki ketergantungan industrialisasi beserta hasil pembobotan akumulasi dengan mempergunakan AHP sebagai berikut: Ketergantungan industrialisasi (0.361), investor (0.214), peran pemerintah (0.462) dan industriawan (0.324); perkembangan kaum borjuis (0.244), kebebasan berdagang (0.188), perkembangan pasar dunia (0.102), keseragaman cara produksi (0.258) dan kesamaan kehidupan (0.208)
Hasil pembobotan akumulatif terbesar yang merupakan factor penting dalam ketergantungan industrialisasi pada masyarakat Campaka ditentukan oleh peran pemerintah setempat (bobot=0.462). Hal ini menunjukkan bahwa peran pemerintah daerah terutama pemerintah Kabupaten Purwakarta yang sangat menentukan terjadinya tranformasi social budaya dalam kaitannya dengan ketergantungan industrialisasi terutama masyarakat Campaka.
Pemerintah daerah akan tergntung pada pemerintah pusat yang berkembang secara mandiri, sehingga perkembangan perekonomian pusat sedang bergerak maju, akan berdampak pada perekonomian pemerintah daerahnya yang dapat ikut bergerak maju. Tetapi, bila pemerintah pusat sedang mengalami kesulitan, dapat dipastikan pula bahwa pemerintah daerah akan mengalami kesulitan. Ketergantungan ekonomi pemerintah daerah pada pemerintah pusat menurut Theotonio Dos santos (dalam Frank, 1984:xvi) menyatakan bahwa: Dengan dependensi dimaksudkan suatu kedaan di mana perkembangan ekonomi negara-negara tertentu tergantung kepada perkembangan dan perluasan ekonomi dari negara-negara lain yang lebih dominant. Hubungan interdependensia antara dua atau lebih suatu sistem perekonomian, dan antara sistem-sistem ini dengan perdagangan dunia, berubah menjadi dependensi kalau beberapa negara yang lebih dominan bisa berkembang dan bermandiri, sedang negara-negara lainnya (yang dependen) hanya bisa melakukan ini sebagai dari perluasan ekonomi dari negara-negara dominant, yang bisa berakibat positif atau negatif pada perkembangan jangka pendek ekonomi negara-negara tersebut.
Kondisi ini menunjukkan dengan jelas bahwa pemerintah daerah yang mendukung secara langsung dengan pemerintah pusat dapat berkembang ekonominya, tapi perkembangan itu hanya merupakan bayangan atau sertaan dari perkembangan ekonomi pemerintah pusat. Karena itu, pemerintah daerah yang tidak bisa menabung, perkembangan ekonominya sangat ditentukan oleh perkambangan ekonomi pemerintah pusat.Perbisch menganjurkan upaya pemerintah daerah menetapkan kebijakan terhadap daerahnya dengan melakukan industrialisasi.
Baran (dalam Horison, 1996:50) menyatakan bahwa ‘’para ahli ilmu social borjuis telah memberikan bantuan ideologi bagi eksploitasi yang kejam terhadap dunia ketiga yang menuntut pandangannya inheren dan kapitalisme’’. Tidak seperti Lenin (1973:20) yang mempertimbangkannya menjadi kepentingan-kepentingan kapitalisme untuk tetap mempertahankan keterbelakangan dari dunia ketiga sebagai daerah terbelakang yang tidak dapat dihindari yang menyebabkan dunia Barat dengan bahan baku penting dan juga kesempatan untuk memperoleh surplus ekonomi.

C. Modernisasi Campaka
Modernisasi sebagai faktor penting ketiga (bobot=0.213) terjadinya transformasi sosial budaya masyarakat agraris ke masyarakat industri di wilayah Campaka berhubungan langsung dengan komponen-komponen utama yaitu: (1) atribut sejarah, (2) proses transisi, dan (3) kebijakan pembangunan. Ketiga komponen utama ini akan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang berkaitan dengan (a) globalisasi, (b) struktur ekonomi, (c) politik ideologi, (d) budaya nasional, (e) manusia dan masyarakat, (f) ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (g) informasi. Semua komponen penting ini akan berdampak langsung terhadap masyarakat Campaka, terutama perubahan dalam hal kedisiplinan, penghargaan terhadap waktu dan orientasi terhadap prestasi. Berikut ini akan dipaparkan model hirarki modernisasi beserta hasil pembobotan akumulasi dengan mempergunakan AHP.
Hasil pembobotan akumulatif terbesar yang merupakan faktor penting dalam modernisasi pada masyarakat Campaka ditentukan oleh atribut sejarah setempat (bobot= 0.376). Hal ini menunjukkan bahwa atribut sejarah terutama sosial, budaya dan tradisi masyarakat Campaka sangat menentukan kecepatan terjadinya transformasi sosial budaya dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat Campaka.
Hasil pembobotan akumulasi model hirarki modernisasi sebagai berikut: Modernisasi (0.213), atribut sejarah (0.376), proses transisi (0.320), kebijakan pembangunan 90.304); globalisasi (0.172), struktur ekonomi (0.082), politik ideologi (0.132), budaya nasional (0.156), manusia dan masyarakat (0.156), ilmu pengetahuan dan teknologi (0.141), informasi (0.159), disiplin (0.408), penghargaan terhadap waktu 0.350) dan orientasi terhadap prestasi (0.242).
Teori sosiologi klasik dalam konsep modernitas memiliki hubungan yang erat dengan pengertian dan kepentingan dari transformasi social yang terjadi di Eropa pada pertengahan abad 19 yaitu seperti efek-efek dari industrialisasi, urbanisasi dan demokrasi politik padamasyarakat perdesaan dan masyarakat otokrat. Istilah ‘’modernitas’’ ini digunakan untuk dapat melingkupi perubahan-perubahan ini pada saat terjadi dengan cara membandingkan modern dengan tradisional.
Pembangunan ekonomi adalah suatu aspek dari serangkaian perubahan masyarakat yang dialami oleh wilayah baru. Modernisasi merupakan suatu konsep yang berkaitan erat dengan pembangunan ekonomi, yang menunjukkan bahwa perubahan besar yang terjadi di suatu wilayah baru: (1) dalam bidang politik sewaktu sistem-sistem kewibawaan suku dan desa yang sederhana digantikan dengan sistem-sistem pemilihan umum, kepartaian, perwakilan dan birokrasi pegawai negeri; (2) dalam bidang pendidikan, masyarakat berusaha mengurangi kebutahurufan dan meningkatkan keterampilan yang membawa hasil-hasil ekonomi; (3) dalam bidang religi, sistem-sistem kepercayaan sekuler mulai menggantikan agama-agama tradisionalitas; (4) dalam lingkungan keluarga, unit-unit hubungan kekeluargaan yang meluas menghilang; (5) dalam lingkungan stratifikasi ketika mobilitas geografis dan sosial cenderung untuk merenggangkan sistem-sistem hierarki yang sudah pasti dan turun-temurun (Weiner, 1994:71).
Industrialisasi dengan teknologinya akan membawa perubahan yang besar di dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Indonesia baik ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam hal ini, yang perlu diketahui bahwa cepat atau lambatnya proses industrialisasi tergantung pada faktor-faktor ekonomi, politik, social dan budaya yang berlaku (Alfian, 1986:40). Hal ini membuktikan bahwa modernisasi akan berkaitan dnegan atribut sejarah yang dimiliki oleh wilayah Campaka.
Ditinjau dari sudut pandang budaya, industrialisasi diprediksikan akan menimbulkan perubahan nilai-nilai dan pola gaya hidup masyarakat. Perubahan nilai-nilai tersebut perlu diperhatikan, karena dalam hal ini mudah terjadi pengertian-pengertian yang keliru tentang nilai-nilai yang akan berubah. Untuk itu perlu dibedakan nilai-nilai tersebut ke dalam dua kelompok yaitu: (1) nilai-nilai dasar yang dianggap ideal dan hakiki oleh masyarakat Indonesia sebagai perekat persatuan dan kesatuan sebagai suatu bangsa; (2) nilai-nilai instrumental yang berguna dalam mendorong untuk berprestasi atau produktif dalam berbagai jenis pekerjaan.
Bahkan Rokeach (1973:3) mengemukakan lima asumsi dasar tentang hakekat nilai yang dimiliki oleh manusia, yaitu: (1) nilai yang dimiliki seorang individu manusia relative sedikit; (2) setiap orang memiliki nilai yang sama dengan tingkatan yang berbeda; (3) nilai terorganisasikan ke dalam tatanan nilai; (4) sumber nilai manusia bisa ditelusuri dari budaya, masyarakat dan pranatanya, dan kepirbadian dan; (5) konsekuensi dari nilai manusia dimanifestasikan dalam hamper seluruh fenomena.
Berdasarkan hasil pembobotan secara kumulatif diperoleh bahwa masyarakat Campaka memiliki factor penting dalam proses modernisasi di wilayahnya, yaitu masalah kedisiplinan dengan bobot=0.408. Kondisi kedisiplinan masyarakat Campaka yang masih dalam proses transisi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri ini, dimungkinkan Karena masih adanya sikap konservatif dalam sosial budaya masyarakat Campaka yang memiliki mata pencahariannya dari pertanian (agraris). Kehidupan tradisional masyarakat yang masih cukup kental, seperti misalnya gotong royong, masih dimiliki oleh masyarakat setempat. Namun kehidupan tradisional ini memiliki dampak dalam tingkat kedisiplinan penduduk setempat yang bekerja di perusahaan industri, yang diikuti bobot kepentingan berikutnya yaitu penghargaan terhadap waktu dan orientasi terhadap prestasi. Sesuai dengan hal tersebut. Rokeach (1973:329) mengungkapkan bahwa: …’’lasting change in values, attitudes, and behavior can be effected by self-confrontation…’’. Perubahan nilai sikap dan perilaku dapat dipengaruhi oleh konfrontasi nilai.
















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Transformasi yang terjadi di Campaka dari masyarakat agraris ke masyarakat industri menunjukkan adanya ambivalensi, di mana dalam ambivalensi ini cenderung dapat menimbulkan konflik baik bersifat eksternal maupun internal dalam kehidupan masyarakat.
2. Mashi terdapat paradok antara tuntutan etos kerja di dalam industri dan yang masih dianut masyarakat dalam nilai sosial budaya masyarakat agraris di dalam dunia industri lebih menghargai disiplin seperti efisiensi waktu, rajin, tekun, tertib, teraatur dan cermat.
3. Peningkatan motivasi berprestasi merupakan prasyarat di dalam penyesuaian anggota masyarakat dalam memasuki profesi baru di bidang industri.
4. Perubahan nilai sosial budaya masyarakat antara lain tampak dari hubungan sosial dalam keluarga dan di kalangan anggota masyarakat menjadi renggang di mana terdapat kecenderungan bahwa nilai-nilai yang dianut mengikuti perkembangan dalam struktur masyarakat kota.

B. Saran
1. Untuk menghindari terjadinya ambivalensi yang mengarah pada konflik, baik internal maupun eksternal, masyarakat perlu diberikan informasi tentang perlunya kerjasama di antara mereka dalaam berbagai forum pertemuan, seperti pengajian rutin, arisan antar warga, dan kegiatan yang dilakukan bersama, seperti Jum’at bersih, posyandu dan olah raga masal.
2. Pemupukan etos kerja perlu dilakukan dengan cara: menjaga kepuasan kerja di lingkungan industri melalui pemberian upah kerja yang sesuai dengan standar Upah Minimum Kabupaten (UMK), peningkatan kesejahteraan pegawai, dan kejelasan dalam jenjang karier; serta membangun persaingan secra sehat melalui pemberian kesempatan yang sama bagi setiap pegawai, penghargaan sesuai prestasi yang dicapai, dan kejelasan dalam peningkatan jabatan.
3. Pendidikan perlu membiasakan anggota masyarakat sejak dini agar dapat memikul tanggung jawab pribadi, berusaha melakukan sesuatu dengan cara yang baru dan kreatif, serta terampil dalam mengambil keputusan dan mengambil risiko sehingga dapat meningkatkan motivasi berprestasi sebagai bekal untuk bekerja di sektor industri.
4. Untuk mengatasi hubungan sosial dalam keluarga dan di kalangan anggota masyarakat menjadi renggang perlu ditanamkan sejak dini nilai-nilai kebersamaan dalam keluarga juga diberi informasi yang tepat tentang kehidupan masyarakat kota sebenarnya dalam memanfaatkan media informasi berupa koran masuk desa dan ceramah dalam kegiatan keagamaan.




















DAFTAR PUSTAKA


Frank, Andre Gunder. 1984. Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi. Indonesia: Pustaka Pulsar.

Germani, Gino. 1981, The Sociology of Modernization Studies. On Its Historical and Theoretical Aspects with Special Regard to the Latin America Case. London: Transaction Books.

Habibie, B.J. 1995. Ilmu Pengetahuan, Teknologi & Pembangunan Bangsa, Menuju Dimensi Baru Pembangunan Indonesia. Jakarta: CIDES.

Harrison, David. 1996. Sosiologi Modernisasi dan Pembangunan, The Sociology of Modernization and Development. Terjemahan BKU Sosiologi- Antropologi Pascasarjana Unpad.

Rafei, Moch E. 2000. Laporan Tahunan Camat Campaka tahun 2000. Purwakarta: Kantor Kecamatan Campaka.

Rokeach, Milton. 1973. Beliefs, Attitudes, and Values: A Theory of Organization and Change. San Francisco: Jossey-Bass., Inc. Publishers.

Saaty, Thomas L. 1988. Decission Making: The Analytic Hierarchy Process. USA. University of Pittsburgh.

Saaty, Thomas L. and Vargas, Luis G. 1994. Decission Making in Economic, Poliitical, Social and Technological Environments: The Analytic Hierarchy Process. USA: University of Pittsburgh.

Weiner, Myron. 1966. Modernization the Dynamics of Growth. America: Voice of Amerika Forum Lectures.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar