Minggu, 06 April 2014

PEMILU DAN PEMIMPIN BANGSA

ENDANG KOMARA Guru Besar Sosiologi Pendidikan Kopertis Wilayah IV Dpk Pada STKIP Pasundan dan Sekretaris Korpri Kopertis Wilayah IV Pemilihan Umum merupakan salah satu pilar demokrasi sebagai wahana perwujudan kedaualatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu diharapkan menjadi pemerintahan yang mendapat legitimasi yang kuat dan amanah. Sehingga, diperlukan upaya dan seluruh komponen bangsa untuk menjaga kualitas Pemilu, baik 9 April 2014 (Memilih anggota DPR, DPD, dan DPRD) maupun 9 Juli 2014 (Memilih Presiden dan Wakil Presiden). Pemilihan umum sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD harus dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Menurut Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi (2013) bahwa semangat Pemilu itu dapat terwujud apabila seluruh komponen bangsa saling bahu-membahu mendukung pelaksanaan Pemilu sesuai aturan perundang-undangan dan penghormatakan hak-hak politik setiap warga negara. Upaya memperbaiki kualitas pelaksanaan Pemilu merupakan bagian dari proses penguatan demokrasi serta upaya mewujudkan tata pemerintahaan yang efektif dan efisien. Suksesnya Pemilu bukan hanya bersandar pada integritas penyelenggaraan Pemilu dan peserta Pemilu semata (sekitar 50 juta dari 180 juta pemilih 2014 adalah pemilih pemula). Namun harus didukung pula oleh seluruh pemangku kepentingan Pemilu demi terciptanya sinergitas yang kuat dan saling berkesinambungan. Terlebih pasal 126 UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilu diatur bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan bantuan dan fasilitas penyelenggaraan Pemilu. Oleh karena itu, persamaan persepsi antar pemangku kepentingan Pemilu dalam upaya mewujudkan Pemilu yang demokratis, mutlak diperlukan. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraan Pemilu di Tanah Air dewasa ini adalah menurunkan tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu. Kondisi itu setidaknya dapat terlihat dari beberapa pelaksanaan Pemilu Legislatif (Pileg) sebelumnya, yaitu Pemilu 1999 dengan tingkat partisipasi politik masyarakat mencapai 92,74 persen, pemilu 2004 mencapai 84,07 persen, dan pemilu 2009 dengan tingkat partisipasi masyarakat sebesar 71 persen. Fenomena menurunya tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pemilu setidaknya juga dapat tergambarkan dari pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada tahun 2013. Setidaknya, angka partisipasi masyarakat berkisar antara 50-70 persen. Sinergitas dari seluruh pemangku kepentingan Pemilu sangatlah diharapkan. Terutama, dalam rangka memberikan sosialisasi yang tepat kepada masyarakat tentang arti pentingnya Pemilu bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tentu berharap partisipasi politik masyarakat akan tetap tinggi pada Pemilu 2014, baik secara kualitas maupun kuantitas. Pendidikan Politik dianggap penting oleh hampir semua masyarakat dan dianggap sebagai penentu perilaku politik seseorang. Penilaian ini didasarkan bahwa pendidikan politik sebagai alat untuk mempertahankan sikap dan norma politik serta meneruskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya, baik melalui akulturasi informal maupun melalui pendidikan politik yang direncanakan untuk menunjang stabilitas sistem politik. Menurut Rusadi Kantaprawira (1988:54) memandang, pendidikan politik sebagai salah satu fungsi struktur politik dengan tujuan meningkatkan pengetahuan politik rakyat agar mereka dapat berpartisipasi secara maksimal dalam sistem politiknya. Dalam perspektif ini, pendidikan politik merupakan metode untuk melibatkan rakyat dalam sistem politik melalui partisipasi dalam menyalurkan tuntutan dan dukungannya. Pengetahuan politik yang membawa orang pada tingkat partisipasi tertentu dalam sistem politik tidak cukup hanya berdimensi pengetahuan, tetapi lebih merupakan paduan antara pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dikembangkan bersama-sama. Senyawa ketiga elemen inilah yang lazim disebut melek politik (political literacy) yang menentukan tingkat keterlibatan individu dalam sistem politiknya. Menurut Idrus Affandi dalam Launching Bukunya berjudul Pendidik Pemimpin, Mendidik Pemimpin, Pemimpin Pendidik pada tanggal 2 April 2014 di Universitas Pendidikan Indonesia, bahwa aspek pengetahuan seseorang dikatakan melek politik apabila sekurang-kurangnya menguasai tentang: Pertama, informasi dasar tentang siapa yang memegang kekuasaan, dari mana uang berasal, bagaimana sebuah institusi bekerja. Kedua, bagaimana melibatkan diri secara aktif dalam memanfaatkan pengetahuan. Ketiga, kemampuan memprediksi secara efektif bagaimana cara memutuskan sebuah isu. Keempat, kemampuan mengenali tujuan kebijakan secara aktif baik yang dapat dicapai ketika isu (masalah) telah dipecahkan. Kelima, kemampuan memahami pandangan orang lain dan pembenahan mereka tentang tindakannya dan pembenaran tindakan dirinya sendiri. Komponen sikap yang membentuk melek politik paling tidak berekenaan dengan sikap tentang kebebasan, toleransi, fair, menghargai kebenaran, menghargai pemikiran dan aspek lain yang biasa disebut nilai prosedural (procedural value). Sedangkan dari aspek keterampilan (skills) seseorang dikatakan melek politik jika ia tidak hanya berperan sebagai penonton yang baik, tetapi mereka mampu berpartisipasi aktif atau bahkan tidak terlibat dalam politik uang, politik sesaat, serangan pajar dan sebagainya. Seseorang yang melek politik pun memiliki toleransi terhadap pandangan orang lain dan dapat memikirkan perubahan dan bagaimana metode yang tepat untuk dapat menguasainya. Penulis salah satu partisipan yang ikut menyumbang tulisan pada memperingati Milad 60 Tahun Prof. Dr. Idrus Affandi, SH, tanggal 2 April 2014 di Universitas Pendidikan Indonesia, bahwa figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dari suri teladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah saw., sebagaimana firman-Nya: ‘Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.’’ (Q.S. Al-Ahzab:21). Sebenarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasullah saw., yang maknanya; ‘’Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinanya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan akan ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.’’ (Al-Hadist). Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya empat sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni: siddiq, tabligh, amanah dan fathanah (STAF). Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya. Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegoisasi. Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya. Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Pemimpin bangsa ke depan sekurang-kurangnya memiliki empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, memiliki akidah yang benar (berideologikan Pancasila). Kedua, memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas. Ketiga, memiliki akhlak yang mulia. Keempat, memiliki perencanaan, manajerial dan administratif dalam menjalankan tugas profesinya. *** Semoga ***.

Minggu, 16 Maret 2014

STRATEGI PERGURUAN TINGGI DALAM MEWUJUDKAN ENTREPRENEURIAL CAMPUS

Oleh: Prof. Dr. Endang Komara, M.Si Disampaikan di Kampus UITM pada tangal 1 April 2014 Abstract Attempts to infuse the soul and spirit of entrepreneurship in higher education can be done by various methods and strategies that make students interested in entrepreneurship. There are at least six ways to improve entrepreneurship for students echo that is the establishment of central campus entrepreneurship, entrepreneurship priority, the development of student entrepreneurship program, independent entrepreneurial programs for students, the program increased competence and productivity of labor for students, and the provision of venture capital programs for students. Keywords: college strategy, realizing entrepreneurial campus. Abstrak Usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan di perguruan tinggi dapat dilakukan dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Sedikitnya ada enam cara dalam meningkatkan gema kewirausahaan bagi mahasiswa yaitu pendirian pusat kewirausahaan kampus, entrepreneurship priority, pengembangan program mahasiswa wirausaha, program wirausaha mandiri untuk mahasiswa, program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas bagi mahasiswa, dan program pemberian modal usaha untuk mahasiswa. Kata kunci:strategi perguruan tinggi, mewujudkan entrepreneur kampus. I. Pendahuluan Peran entrepreneur dalam menentukan kemajuan suatu negara telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti Amerika, Jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu Singapura dan Malaysia. Di Amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya menjadi entrepreneur, dalam setiap 11 detik lahir entrepreneur baru dan data menunjukkan 1 dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur. Itulah yang menjadikan Amerika sebagai negara adi kuasa dan super power. Selanjutnya Jepang lebih dari 10 persen penduduknya sebagai wirausaha dan lebih dari 240 perusahaan Jepang skala kecil , menengah dan besar bercokol di bumi kita. Padahal Jepang mempunyai luas wilayah yang sangat kecil dan sumber daya alam yang kurang mendukung (kurang subur) namun dengan semangat dan jiwa entrepreneurship-nya menjadikan Jepang sebagai negara terkaya di Asia. Mengintip sedikit jumlah penguasa tetangga terdekat yang satu rumpun dengan kita yaitu Singapura dan Malaysia, fakta menyebutkan lebih dari 7,2 persen pengusaha Singapura dan lebih dari 3 persen pengusaha Malaysia yang menjadikan pertumbuhan berbagai bidang terutama pertumbuhan ekonomi semakin jauh meninggalkan kita. Indonesia hanya memiliki 0,18 persen pengusaha alias kurang dari 1 persen dari jumlah penduduk kita saat ini, yaitu 243 juta. Padahal untuk membangun ekonomi bangsa, menjadi bangsa yang maju, menurut salah seorang sosiolog yaitu David McClelland, sedikitnya dibutuhkan minimal 2 persen wirausaha dari populasi penduduknya, atau dibutuhkan sekitar 4,8 jjuta wirausaha di Indonesia saat ini. Begitupun menurut Ciputra setidiknya dibutuhkan minimal 2 persen pengusaha untuk menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Penting seperti kita mencontoh salah satu perguruan tinggi di Amerika yaitu MIT (Massachusette InstituteTechnology) dimana dalam kurun waktu tahun 1980-1996 di tengah pengangguran terdidik yang semakin meluas dan kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang stabil, MIT merubah arah kebijakan perguruan tingginya dari High Learning Institute and Research menjadi Entrepreneurial University. Meskipun banyak pro kontra terhadap kebijakan tersebut namun selama kurun waktu di atas 16 tahun MIT mampu membuktikan lahirnya 4.000 perusahaan dari tangan alumninya dengan menyedot 1,1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. Sungguh prestasi yang sangat spektakuler sehingga merubah kondisi mereka menjadi negara super power. Kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses di dunia. II. Pembahasan A. Usaha Peningkatan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi Berkaca dari kesuksesan negara maju seperti Amerika dan eropa yang hampir seluruh perguruan tingginya menyisipkan materi entrepreneurship dihampir setiap mata kuliahnya, negara-negara di Asia seperti Jepang, Singapura dan Malaysia juga menerapkan materi-materi entrepreneurship minimal di dua semester. Itulah yang menjadikan negara-negara tetangga kita tersebut menjadi negara maju dan melakukan lompatan panjang dalam meningkatkan pembangunan negaranya. Di Indonesia, usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan di perguruan tinggi terus di galakan dan ditingkatkan, tentunya dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Menurut Heri Kuswara (2012), sedikitnya ada enam usaha atau cara dalam meningkatkan gema kewirausahaan bagi mahasiswa, antara lain: 1. Pendirian Pusat Kewirausahaan Kampus. 2. Entrepreneurship Priority. 3. Pengembangan Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) 4. Program Wirausaha Mandiri Untuk Mahasiswa. 5. Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Kerja dan Produktivitas bagi Mahasiswa. 6. Program Pemberian Modal Usaha Untuk Mahasiswa. Selanjutnya McClelland (1998:25-28) menyatakan bahwa, ada tiga sifat baku yang ada dalam setiap diri manusia, yaitu: need of power, need of affilitiation, dan need of achievement. Ketiga sifat baku tersebut merefleksikan karakteristik kewirausahaan sebagai berikut: 1. Adanya keinginan untuk berprestasi. 2. Adanya keinginan untuk bertanggung jawab. 3. Mempunyai preferensi kepada resiko-resiko menengah. 4. Mempunyai persepsi pada kemungkinan berhasil. 5. Memperhitungkan umpan balik dan apa yang mereka kerjakan. 6. Mempunyai aktivitas enerjik. 7. Berorientasi masa depan. 8. Mempunyai keterampilan dalam pengorganisasian, dan 9. Sikap menomorduakan uang. Karakteristik tersebut, McCelland menyebut sebagai virus mental yang mendorong seseorang berfikir dan berbuat untuk melakukan sesuatu. Seorang pewirausaha memiliki sikap dan kepribadian sebagai berikut: rasa percaya diri, mandiri dalam mencari penghasilan dan keuntungan melalui aktivitasnya, berusaha secara terus-menerus berusaha untuk menemukan peluang-peluang usaha yang menguntungkan, bekerja keras serta tekun dalam menghasilkan sesuatu, selalu mencoba cara kerja yang tepat dan efisien, berkomunikasi dan berinteraksi dengan pelanggan untuk kemajuan usahanya, menghadapi hidup dengan terencana, jujur, hemat diri, disiplin, mencintai dan melindungi kegiatan usahanya, meningkatkan kapasitas diri sendiri dan usahanya dengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain untuk memajukan usahanya, bersinergi lingkungan dengan hubungan saling menguntungkan, membuat jaringan untuk mengembangkan usahanya. Sementara itu, Timmon dalam Kurtako dan Hotgetts (2000:17), bahwa kewirausahaan merupakan kemampuan membuat dan membangun visi dari sesuatu yang seolah-olah tidak sesuai, tidak kreatif, perhatian, prakarsa, dan analisisnya terhadap perkembangan sesuatu (situasi). Pendapat lain mengatakan bahwa kewirausahaan adalah suatu penciptaan nilai tambah dengan memperhitungkan resiko dari suatu peluang usaha dan memobilisasi sumber-sumber daya dengan kemampuan manajemen untuk mencapai tujuan (Kao, 1999; Yusri, 2005:23). Lebih lanjut ditegaskan bahwa kewirausahaan berkaitan dengan seluruh aktivitas manusia yang bersifat eksternal daripada kegiatan sosial. Oleh sebab itu, setiap orang yang memiliki keberanian wirausaha. Wirausahaan selalu mencari perubahan dengan melihat perubahan itu sebagai norma, sesuatu yang sehat, menanggapi dan memanfaatkan perubahan itu sebagai peluang (Ziglar, 1986; Drucker, 1998:55). Kini istilah kewirausahaan berkembang dan dipakai secara meluas dalam berbagai bidang pekerjaan, seperti: pertanian, perekayasaan, kedokteran, pendidikan, dan bidang-bidang lainnya (Hisrich dan Peters, 1992). Selanjutnya Kao (1995:55) memandang entrepreneur sebagai seorang motivator atau creator dalam penciptaan dan pemanfaatan peluang bisnis. Entrepreneur merupakan manajer yang kegiatannya tidak hanya berfikir untung-rugi bagi dirinya tetapi juga berusaha untuk memikirkan pengabdian dan mewujudkan dekatnya kepada masyarakat dan negara untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat atas kemampuannya sendiri, memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga semakin membaik, memperluas kesempatan kerja bagi rakyat banyak, berupaya mengakhiri ketergantungannya kepada pihak luar dan orang lain (Dariyatmo, 2007:34). Selanjutnya Meredith (1998:76) secara spesifik melihat entrepreneur sebagai orang yang berhasil menikmati pekerjaan, dan berdedikasi penuh terhadap apa yang mereka lakukan, mengubah pekerjaan berat menjadi pekerjaan menggairahkan, menarik dan memberi kekuasaan. Lebih lanjut Meredith menambahkan bahwa wirausahaan adalah orang yang memiliki kemampuan melihat dan mengevaluasi peluang bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan untuk mengambil keuntungan darinya dan mengambil tindakan secara tepat untuk meraih kesuksesan. Karakteristik kewirausahaan merupakan potensi diri yang dimiliki seseorang berupa sikap mental yang dapat dikembangkan melalui pendidikan. Kao (1999:34), Meretith (1998) dan Inkeles (1995) mengemukakan bahwa manusia wirausaha memiliki entrepreneurial spirit tinggi, seperti: bermoral tinggi, optimistik, proaktif, kerja keras, kegigihan dan keuletan, kesungguhan, percaya diri, tekad bulat, achievement-oriented, bertanggung jawab, bersemangat (bergairah) dan humoris, berani memikul resiko, jujur-adil, motivasi dan jiwa bersaing tinggi, keorsinilan, keteladanan, task-and product-oriented, dan lainnya. Selanjutnya Sumahamijaya (2000:19) mengemukakan bahwa kewirausahaan memiliki sifat-sifat: kemandirian, keutamaan, keteladanan dan semangat bersumber dari kekuatan sendiri, dan seseorang pendekar kemajuan baik kekaryaan pemerintahan, maupun dalam kegiatan apa saja di luar pemerintahan dalam artipositif yang menjadi pangkal keberhasilan seseorang. Demikian juga Sumanto (2002:21) bahwa kewirausahaan memiliki nilai keberanian, keutamaan dan kepercayaan dalam memenuhi kebutuhan serta memecahkan masalah hidup dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Sedangkan Musselman dkk, (1997) mengatakan bahwa perilaku seorang pewirausaha tampak pada karakteristik seperti; strong desire to be independent, willingness to assume risks, ability learn from experience, self motivation, competive spirit, orientation to hard-work, self-confidence, achievement drive, highly energy level, assertiveness, belief self. B. Strategi Perguruan Tinggi Mewujudkan Entrepreneurial Kampus Perguruan tinggi sebagai salah satu pusat pembinaan dan pengembangan kewirausahaan ditetapkan melalui hasil pertemuan wilayah Asia dan Pasifik ‘’APEC’’ di Seatle sebagaimana salah satu agenda kesepakatan bahwa untuk membantu mempercepat pertumbuhan perekonomian di wilayah Asia dan Pasifik secara luas dan merata, perlu ada kerjasama ‘’tripartie’’ antara ‘’Government-Business-Universities’’, Sanusi (2005:77). Salah satu sasarannya adalah memajukan kewirausahaan. Sebagai implementasi dari ketiga lembaga tersebut secara fungsional mempunyai peranan yang bersifat komplementer dalam pembinaan dan pengembangan kewirausahaan masyarakat kampus dalam hal ini peranan perguruan tinggi dalam memotivasi lulusan sarjananya menjadi seorang wirausahawan muda sangat penting dalam menumbuhkan jumlah wirausahawan. Dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana akan mengurangi pertambahan jumlah pengangguran bahkan menambah jumlah lapangan pekerjaan. Tugas perguruan tinggi yang termaktub dalam ‘’Tridharma’’ perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat merupakan jalur paling strategik dalam pembinaan dan pengembangan nilai-nilai kewirausahaan yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Melalui jalur pendidikan sasaran utamanya adalah menanamkan nilai-nilai kepribadian dan wawasan kewirausahaan kepada para mahasiswa melalui proses pembelajaran. Jalur penelitian merupakan jalur pengembangan inovasi kewirausahaan yang bermanfaat dalam peningkatan kualitas dan perluasan wilayah jangkauan kewirausahaan. Inovasi dalam kewirausahaan merupakan jiwa dari keberhasilan berwirausaha, karena inovasi merupakan proses nilai tambah dari waktu ke waktu sehingga memungkinkan suatu usaha akan selalu tampil berbeda baik dalam bentuk maupun kualitas dengan usaha lainnya. Pengabdian kepada masyarakat sebagai jalur pembinaan dan pengembangan kewirausahaan berimplikasi pada partisipasi langsung pihak perguruan tinggi melalui berbagai bentuk program pembinaan dan pengembangan kewirausahaan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Perguruan tinggi bertanggung jawab dalam mendidik dan memberikan kemampuan dalam melihat peluang bisnis serta mengelola bisnis tersebut serta memberikan motivasi untuk mempunyai keberanian menghadapi resiko bisnis. Peranan perguruan tinggi dalam memotivasi para srjananya menjadi young enetrepreneurs merupakan bagian dari salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Peranan perguruan tinggi dalam menyediakan suatu wadah yang memberikan kesempatan melalui usaha sejak masa kuliah diberikan sangatlah penting bisa pada saat masa kuliah berjalan, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana peranan perguruan tinggi dalam hal memotivasi mahasiswanya untuk bergabung dalam wadah tersebut. Karena tanpa memberikan gambaran secara jelas apa saja manfaat berwirausaha, maka besar kemungkinan para mahasiswa tida ada yang termotivasi untuk memperdalam keterampilan berbisnisnya. Oleh karena itu, pihak perguruan tinggi juga perlu mengetahui faktor yang dominan memotivasi mahasiswa dalam berwirausaha. Hasil penelitian Yuliana (2012) menjelaskan, bahwa ada tiga faktor yang paling dominan dalam memotivasi sarjana menjadi wirausahawan yaitu faktor kesempatan, kebebasan dan kepuasan hidup. Ketiga faktor itulah yang membuat mereka menjadi wirausahawan. Proses penyampaian ini harus sering dilakukan sehingga mahasiswa semakin termotivasi untuk memulai bersirausaha. Sebab banyak mahasiswa merasa takut menghadapi risiko bisnis yang, mungkin muncul yang membuat mereka membatalkan rencana bisnis sejak dini. Motivasi yang semakin besar, ada pada mahasiswa menyebabkan wadah yang disiapkan oleh pihak perguruan tinggi tidak sia-sia, melainkan akan melahirkan wirausahawan muda yang handal. Dengan semakin banyaknya mahasiswa memulai usaha sejak masa kuliah, maka besar kemungkinan setelah lulus akan melanjutkan usaha yang sudah dirintisnya. Sehingga semakin berkurangnya jumlah pengangguran di negeri kita, akan tetapi sebaliknya semakin bertambahnya jumlah lapangan pekerjaan yang dibuka. Selain motivasi mahasiswa juga perlu dibekali keterampilan agar mampu bersaing sehingga mampu bertahan dan tidak mudah putus asa apabila terjadi kegagalan. Menurut Hopson dan Scaly (1990:56-61) mencatat empat macam keterampilan pemberdayaan diri sebagai keterampilan hidup (life skills), pertama keterampilan untuk hidup dan berkembang secara umum. Keterampilan ini meliputi: 1. Keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. 2. Keterampilan mencari informasi dan sumber informasi. 3. Keterampilan berfikir secara proaktif dan memecahkan masalah secara konstruktif. 4. Keterampilan mengenal potensi kreatif dan mengembangkannya. 5. Keterampilan mengelola dan memanfaatkan waktu secara efektif dan optimal dengan membuat komitmen dan prioritas kekinian. 6. Keterampilan mengidentifikasi minat, nilai-nilai dan keyakinan pribadi. 7. Keterampilan menetapkan dan mencapai tujuan. 8. Keterampilan membuat persediaan antisipasi untuk menangkal masa-masa krisis dan transisi. 9. Keterampilan membangun konsepsi diri secara positif dengan mempertimbangkan kekuatan diri kekuatan orang lain. 10. Keterampilan membuat keputusan. 11. Keterampilan manajemen stress (gangguan jiwa) dan emosi negatif lainnya (rendah diri, marah, bohong, takut, cemas, dan lain-lain), dan 12. Keterampilan memelihara kebugaran mental dan fisik. Kedua, keterampilan membangun relasi Aku-Engkau yang dibedakan atas lima keterampilan, yaitu: 1. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, baik verbal-nonverbal, maupun secara face-to face, atau melalui media lain, seperti surat, telpon, untuk menjalin relasi dan kerjasama dengan orang lain baik untuk mencari pekerjaan, mendirikan usaha, maupun silaturahmi sebagai makhluk sosial. Komunikasi merupakan jiwa kehidupan. 2. Keterampilan membangun hubungan, memelihara dan mengakhiri hubungan. 3. Keterampilan memberi dan mendapatkan bantuan. Memberi dapat membangkitkan rasa percaya diri dan meminta bantuan kepada orang lain untuk bekerja sama adalah memberdayakan. 4. Keterampilan memenij konflik. Konflik merupakan bagian integral dari kehidupan berkarya dan tidak sedikit menimbulkan depresi yang destruktif. Namun konflik dapat diatasi melalui brain-storming dengan mengkomunikasikan secara jelas dan terbuka kepada pihak lain, dan 5. Keterampilan memberi dan menerima imbalan dengan perasaan utuh. Pikirkan diri anda seperti orang lain memikirkan diri anda. Dalam arti pihak pemberi dan penerima keduanya merasa puas. Ketiga, keterampilan membangun relasi Aku-Orang lain, meliputi sebagai berikut: 1. Keterampilan bersikap tegas dengan tetap berada dalam koridor menghormati hak-hak dan martabat orang lain. 2. Keterampilan mengetahui cara kerja yang bersinergi dengan masyarakat dan sistem sosial yang ada dengan strategi memanfaatkan peluang untuk meraih sukses tanpa mengganggu hak-hak orang lain. 3. Keterampilan melakukan kerja sama dalam kelompok dengan mengintegrasikan diri dalam masyarakat. Kehidupan bekerja sama bilateral dan multilateral (human organizational) merupakan karaktersitik kehidupan manusia modern. Orang yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain sulit akan berhasil. 4. Keterampilan mengekspresikan perasaan konstruktif (tidak priori, tenggang rasa, familiar, tidak sombong, lugas dan sebagainya) sehingga orang lain dapat menilai positif. 5. Keterampilan bernegosiasi, berkompromi, dan membuat kontrak komitmen untuk mengatasi perbedaan kepentingan. Kontrak komitmen yang jelas dimana ekspektasi dibagi, batas keterikatan diklarifikasi hubungan antar manusia. 6. Keterampilan membangun power dalam sistem sosial yang ada melalui pemberdayaan. Keempat, keterampilan membangun relasi dalam situasi tertentu yang meliputi sebagai berikut: 1. Dalam dunia pendidikan, keterampilan mencari pilihan life skills untuk dipelajari dengan menemukan peluang dan informasi yang relevan. 2. Dalam dunia kerja, keterampilan mencari untuk menemukan opsi profesi yang terbuka, mendapatkan suatu pekerjaan, memelihara pekerjaan yang ada, beralih profesi, dan mengatasi unemployment dengan membangun keterampilan tertentu untuk mengubah profesi sebagai karir, hidup, keterampilan memelihara keberlangsungan profesi agar tetap menjadi karir hidup yang memberi jaminan kesejahteraan secara psikis dan material. 3. Di rumah, keterampilan memilih suatu gaya hidup tertentu dan memeliharanya agar secara konsisten tetap langgeng sampai hari tua sebagai pola hidup keluarga, keterampilan hidup bersama secara rukun teraktualisasi pada cara menegur, menyapa, mengambil keputusan, berkompromi, memecahkan masalah, penguatan gizi, bernegosiasi dalam keluarga dan orang lain, dan sebagainya, dan 4. Di masyarakat, keterampilan membangun kontrak sosial agar diterima sebagai anggota masyarakat (adaptasi kultur, tradisi, adat-istiadat), keterampilan mengubah pola pikir konstruktif (orientasi ke masa depan, rasional, adil, jujur, teladan, terbuka, familiar, sederhana, santun, membebaskan diri dari iri, dengki, kepedulian sosial) dan keterampilan memanfaatkan dan membudidayakan potensi sumber daya yang ada di masyarakat sebagai peluang berwirausaha bagi generasi muda yang dipersiapkan melalui pendidikan dan pelatihan. Strategi yang dapat diimplementasikan oleh perguruan tinggi dalam menumbuhkan geliat entrepreneurship di perguruan tinggi, yaitu: 1. Menyusun Kurikulum. Dalam merumuskan sistem atau metode pembelajaran dan pelatihan kewirausahaan perguruan tinggi harus dengan sungguh-sungguh mendesain mata kuliah atau materi kewirausahaan untuk mahasiswanya, dimulai dari pembuatan silabus, satuan acara pengajaran (SAP), slide presentasi, modul teori, modul praktikum atau praktek, pembuatan buku panduan, dan lain-lain. Rumusan itu tentunya harus dikerjakan oleh sebuah tim yang benar-benar expert dan experience di berbagai bidang keilmuan. Yang kurang diperhatikan oleh perguruan tinggi dalam merumuskan kurikulum ini adalah tidak/kurangnya mengikutsertakan akademisi non ekonomi dan praktisi/pelaku usaha serta motivator entrepreneurship di dalam team menyusun, sehingga mata kuliah/materi yang diberikan tidak/kurang berkualitas. Hal ini penting dilakukan mengingat kolaborasi antara akademisi, praktisi dan motivator akan menghasilkan konsep dan gagasan kewirausahaan yang tepat dan sesuai untuk mahasiswa dari berbagai disiplin keilmuan. Menyusun kurikulum entrepreneurship, tidak serta merta menjadikan entrepreneurship sebagai mata kuliah tersendiri, namun bisa saja muatan entrepreneurship ini dimasukkan ke dalam sebagian/seluruh mata kuliah. 2. Peningkatan SDM Dosen. Setidaknya perguruan tinggi harus mempersiapkan SDM dosen yang mampu ‘’5M’’ sebagai berikut: (1) mampu memberikan paradigma baru tentang pentingnya kewirausahaan; (2) mampu merubah/mengarahkan mindset mahasiswa menjadi seorang yang berjiwa entrepreneurship; (3) mampu menginspirasi dan memotivasi mahasiswa menjadi SDM yang mandiri; (4) mampu memberikan contoh karya nyata kewirausahaan (barang/jasa) dan menyuguhkan success story; (5) mampu menghasilkan SDM mahasiswa/alumni menjadi seorang intrapreneur atau entrepreneur sukses. Program peningkatan SDM dosen ini dapat melalui berbagai cara di antaranya melalui ‘’5P’’, sebagai berikut (1) Program Short course entrepreneurship (program pelatihan kewirausahaan untuk dosen), (2) Program seminar/workshop/lokakarya entrepreneurship, (3) program pemagangan dosen di dunia usaha, (4) program sarasehan dengan mitra usaha/dunia usaha (5) program pembinaan/pendampingan dosen baru. 3. Membentuk Entrepreneurship Center (baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kemahasiswaan) 4. Kerjasama dengan Dunia Usaha. Hal ini penting dilakukjan oleh perguruan tinggi dalam rangka tiga tujuan, yaitu; (1) meningkatkan kualitas SDM dosen dan mahasiswa, (2) membuka peluang magang usaha bagi dosen dan mahasiswa, (3) membuka peluang kerjasama usaha khususnya untuk mahasiswa/alumni. Dengan program kerjasama ini diharapkan mahasiswa terutama dapat menganalisa dan mengamati bentuk usaha nyata sehingga mempunyai gambaran ketika kelak berwirausaha. 5. Membentuk Unit Usaha untuk mahasiswa. Salah satu kesungguhan perguruan tinggi dalam mewujudkan mahasiswanya untuk menjadi seorang entrepreneurship adalah perlu membentuk beberapa unit usaha bagi dosen dan mahasiswa, apapun jenis usahanya tentu harus sesuai dengan kesepakatan antara mahasiswa dengan institusi kampus. Unit-unit usaha yang dibentuk ini dapat dijadikan sebagai salah satu pengalaman berharga bagi mahasiswa sebelum terjun membuka usaha secara mandiri. 6. Kerjasama dengan Institusi Keuangan (perbankan/non perbankan). Untuk mewujudkan mahasiswa/alumninya sebagai seorang entrepreneur, perguruan tinggi berkewajiban memberikan kemudahan bagi mahasiswanya dalam membuka usaha, salah satunya adalah dengan cara menjadi fasilitator dan mediator antara mahasiswa dengan dunia keuangan (perbankan/non perbankan) dalam hal kemudahan kredit usaha bagi mahasiswa. Kerjasama ini dapat menjadi trigger bagi mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda. Tidak sedikit dari mahasiswa berkeinginan untuk berwirausaha namun kendala dengan modal (dana). Kerjasama inilah yang harus dilakukan oleh perguruan tinggi. 7. Entrepreneurship Award. Salah satu pemicu meningkatnya semangat kewirausahaan dari mahasiswa adalah dilaksanakannya secara rutin perlombaan/kejuaraan kewirausahaan. Perlombaan kewirausahaan mahasiswa dengan memberikan award bagi mahasiswa juga dapat menjadi salah satu langkah perguruan tinggi dalam meningkatkan minat wirausaha mahasiswa. Perlombaan ini dapat berupa bussines plan atau entrepreneurship expo. Beberapa Strategi Perguruan Tinggi Mewujudkan Entrepreneurial kampus di atas apabila diimplementasikan dengan serius dan sungguh-sungguh maka akan banyak lahir entrepreneur-entrepreneur sukses negeri ini yang mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan dan pergerakan pasar lokal sehingga tercipta peluang pekerjaan bagi generasi muda yang pada akhirnya mampu menjadi bangsa mandiri yang tidak banyak tergantung pada negara asing. III. Kesimpulan A. Perguruan tinggi sebagai salah satu mediator dan fasilitator terdepan dalam membangun generasi muda bangsa mempunyai kewajiban dalam mengajarkan, mendidik, melatih dan meotivasi mahasiswanya sehingga generasi cerdas yang mandiri, kreatif, inovatif dan mampu menciptakan berbagai peluang pekerjaan (usaha). Untuk itu sebuah keharusan bagi setiap perguruan tinggi segera merubah arah kebijakan perguruan tingginya dari High Learning University and Research University menjadi Entrepreneurial University atau menyeimbangkan kedua arah kebijakan tersebut sehingga arah kebijakan keduanya tercapai baik yang bersifat High Learning University and Research University maupun yang bersifat Entreprineurial University. Dengan paradigm change tersebut pada akhirnya akan melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda sukses layaknya ‘’pahlawan-pahlawan muda’’ yang mampu membangkitkan bangsa ini dari berbagai keterpurukan. B. Untuk melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda sukses tersebut diperlukan kesungguhan dan keseriusan dari perguruan tinggi dalam mengemban misi entrepreneurial campus. Program-program kewirausahaan perlu dijalankan oleh berbagai perguruan tinggi khususnya di Indonesia, patut kiranya dijadikan sebagai teladan dalam memulai memfokuskan perguruan tinggi dalam melahirkan entrepreneur-entrepreneur muda sukses. C. Pembinaan dan pengembangan sikap mental kewirausahaan di lingkungan masyarakat kampus melalui program pengembangan kewirausahaan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan pada para mahasiswa dan juga staf pengajar diharapkan menjadi wahana pengintegrasian secara sinergi antara penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa kewirausahaan. Selain itu diharapkan pula hasil-hasil penelitian dan pengembangan tidak hanya bernilai akademis saja, namun mempunyai nilai tambah bagi kemandirian perekonomian bangsa. DAFTAR PUSTAKA Dariyatmo. 2007. Peranan Wiraswasta sebagai Unsur ketahanan Nasional: Sistem Pendidikan dan Pengembangan Kewiraswastaan Indonesia. Jakarta. Drucker. P.E. 1994. Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. New York: Harper Business. Hopson B. & Scaly M. 1990. Life-Skills Teaching. New York: McGraw-Hill. Inkeles. P. & Smith D.H. 1995. Becoming Modern: Individual Change in Six Developed Countries. Maaschustt: Harvard University Press. McClelland. 1998. The Achievement Motive. New York: Publishing. Kao. J.J. 1999. The Entrepreneur. New Jersey: Englewood Clifft-Prentice-Hall. Kurtako. D.F & Hodgettt. R.M. 2000. Entrepreneurship: A Canteporary Approach. San Fransisco: The Dryden Press. Kuswara Heri. 2012. Mewujudkan Entrepreneurial Campus adalah sebuah Keharusan. Tersedia: www.dikti.go.id (diakses 23 Februari 2014). Meredith. G.G. dkk. 1998. Kewirausahaan: Teori dan Praktek. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Mussieman. V.A. & Jackson. LK. 1997. Introduction to Modern Business. New Jersey: Prentice-Hall. Sanusi, A. 2005. Pendidikan Alternatif Menyentuh Atas Dasar Persoalan Pendidikan dan Kemasyarakatan. Program Pascasarjana UPI Bandung. Sumahamijaya, S. 2000. Membina Sikap Mental Wirausaha. Jakarta: Gunung Agung. Yuliana Lia. 2012`. Peranan Perguruan Tinggi Dalam Mengembangkan Sikap Mental Kewirausahaan Mahasiswa. Tersedia: www.uny.ac.id (diakses 23 Februari 2014). Yusri. 2005. Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Kewirausahaan Pada Siswa STM. Disertasi, PPS-UPI: Tidak Diterbitkan. Ziglar, z. 1998. Top Performance. New York: Berkeley Books.

KEBIJAKAN PELINDUNGAN BAGI GURU

ENDANG KOMARA Guru Besar Kopertis Wilayah IV Dpk Pada STKIP Pasundan dan Sekretaris Korpri Kopertis Wilayah IV Guru merupakan tenaga pendidik profesional yang memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Fungsi, peran dan tanggungjawab guru sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, adil, makmur, dan beradab. Tujuan itu akan tercapai apabila terjadi sinegritas antara semua pemangku kepentingan pendidikan dan adanya jaminan keselamatan dan kenyamanan untuk melaksanakan tugas guru dalam bentuk perlindungan dalam menjalankan profesionalitas mereka sebagai guru. Berbagai pesoalan terkait dengan layanan pendidikan sering muncul di lapangan. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik, guru sering berhadapan dengan persoalan hukum karena berbenturan dengan berbagai pihak terkait dengan tugas dan fungsinya sebagai guru, sehingga berakibat terancamnya yang tidak merata, lingkungan masyarakat yang berbeda, serta kompetensi guru yang beragam menimbulkan persoalan dalam pelayanan pendidikan di berbagai jenjang pendidikan. Dalam menjalankan profesnya guru sering berhadapan dengan masyarakat dengan segala permasalahan yang dihadapinya sehingga berimplikasi menjadi masalah hukum. Di sisi lain, guru juga dihadapkan pada situasi lingkungan kerja yang kadang-kadang kurang kondusif yang dapat mengancam kesehatan dan keselamatan dirinya. Sementara itu banyak karya inovasi yang dihasilkan guru tidak terlindungi secara hukum sehingga hak kekayaan intelektualnya tidak mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang akhirnya tentu akan merugikan guru itu sendiri secara moril dan materil. Beberapa perturan perundang-undangan tentang pendidikan telah mengatur pentingnya perlindungan kepada pendidik. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 40 menyatakan bahwa: ‘’Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual’’. Perlindungan terhadap pendidik harus dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat, organisasi profesi dan pemerintah. Hal ini dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 39 ayat (1) bahwa ‘’pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas’’. Dengan demikian sangat jelas peranserta masyarakat dan pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap pendidik. Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru pada Pasal 40, 41, dan 42 diatur bagaimana hak guru untuk mendapatkan perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak kekayaan intelektual yang di dalamnya mencakup perlindungan hukum dan perlindungan profesi guru sebagai pendidik. Berkaitan dengan guru dalam memperoleh perlindungan seperti dinyatakan di atas, sejauh ini belum ada rumusan komprehensif tentang bagaimana prosedur dan pelaksanaan pelindungan guru sebagai pendidik profesional. Atas dasar itu, perlu dirumuskan pedoman perlindungan terhadap guru sehingga memungkinkan terwujudnya perlindungan hukum, perlindungan profesi, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perlindungan atas kekayaan intelektual bagi guru. Pada tanggal 4 Maret s.d. 7 Maret 2014 penulis mejadi salah satu nasasumber (dari 30 orang) yang ditugaskan oleh Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar di Hotel Marbella Suites Bandung untuk menyusun Pedoman Kebijakan Perlindungan Pendidik dan Tenaga Kependidikan beserta mempersiapkan Naskah Akademik yang terdiri dari Prof. Dr. Endang Komara, M.Si, Prof. Dr. L. Budi Kagramanto, SH, MH, MM, Prof. Dr. M. Zaim, M.Hum, Dr. Heri Firman dan Dr. Dewi Kania Sugiharti, SH, MH. Salah satu materi yang dipersiapkan dalam naskah akademik mengenai perlindungan bagi guru Indonesia antara lain: Pertama perlindungan hukum. Guru selayaknya mendapat perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, intimidasi, perlakuan tidak adil dari peserta didik, orang tua, dan masyarakat sekitarnya. Tindakan seperti ini sering ditemui ketika kepentingan mereka terganggu atau merasa dirugikan dengan tidakan guru yang sebenarnya telah melaksanakan fungsinya dengan benar. Perlindungan hukum yang dimaksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan semena-mena dari peserta didik, orang tua peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain. Kedua, pelaksanaan tugas profesi guru. Profesi guru rawan terhadap pemutusan hubungan kerja yang tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku, terutama bagi guru tidak tetap baik yang dikelola oleh masyarakat maupun pemerintah. Mereka sering mendapat imbalan yang tidak wajar. Mereka juga sering mendapat pembatasan atau pelarangan melakukan aktivitas yang dapat menghambat guru dalam melaksanakan tugas. Oleh karena itu guru berhak mendapatkan perlindungan profesinya sebagai guru. Ketiga, hak atas keselamatan dan kesehatan kerja. Melaksanakan tugas dengan rasa aman merupakan kebutuhan dasar manusia. Adanya jaminan keamanan akan membuat semua aktivitas yang dilakukan seseorang berjalan dengan baik dan lancar. Munculnya perasaan kurang aman akan menyebabkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan tidak optimalnya pekeraan yang dilakukan seseorang. Akibatnya prestasi kerja tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keempat, hak atas kekayaan intelektual. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan sebagai guru, banyak karya ilmiah berupa inovasi pembelajaran, media pembelajaran, dan pengembangan materi dan teknik pembelajaran yang dihasilkan oleh guru. Ini merupakan kekayaan intelektual yang harus dihargai oleh semua pihak. Untuk itu perlu perlindungan hak kekayaan intelektual yang dihasilkan oleh guru. Dalam waktu dekat ini hendaknya Mendikbud mengeluarkan Permendikbud tentang perindungan terhadap guru. Adapun yang harus dirumuskan antara lain: Bagaimana bentuk, prosedur, kriteria yang jelas dan mudah dipahami oleh pemangku kepentingan tentang substansi perlindungan bagi guru. *** Semoga ***.

PENDIDIK PEMIMPIN, PEMIMPIN PENDIDIK

Endang Komara (Ketua Prodi Magister Pendidikan IPS STKIP Pasundan dan Sekretaris Korpri Kopertis Wilayah IV) Sebuah kata bijak mengatakan bahwa: ‘’Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’’. Artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada suatu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh sosok guru. Indonesia merupakan negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi sistem pendidikan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, melakukan seks bebas, tawuran, murid tidak patuh pada gurunya, , murid melawan pada gurunya, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Para figur publik idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru. Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik dan guru sebagai pemimpin. Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri dikebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya. Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarlah bahwa guru bias melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tentu tidak hanya bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi guru, meraih jabatan structural, dan kenikmatan untuk memuaskan diri sendiri. Gur pemimpin, pagham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi aku, tapi mereka, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka taksilau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran. Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki charisma dan inspirasi di mata murid-muridnya. Jika gur sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Sejalan dengan hal tersebut, maka George R. Terry (2006:124) mengemukakan delapan ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu, pertama energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik. Kedua, stabilitas emosi, tidak boleh mempunyaib prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar. Ketiga, mempunyai pengetahuan tentang hubungan antar manusia. Keempat, motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri. Kelima, kemampuan berkomunikasi atau kecakapan berkomukasi dan atau bernegosiasi. Keenam, kemampuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan. Ketujuh, kemampuan social atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, luwes dalam bergaul. Kedelapan, kemampuan teknis, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mengambil keputusan dfan mampu menyusun konsep. Kepemimpinan yang berhasil di abad globalisasi menurut Dave Ulrich (1999) adalah: ‘’Merupakan pertalian antara kredibilitas dan kapabilitas’’. Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bias dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya. Sedangkan kapabilitas adalah kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya. Kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin yang menunjukkan kompetensi seperti mempunyai kekuatan keahlian (expert power) disamping adanya sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang positif (moral character) bila dikaitkan dengan kemampuan memimpin dalam menata visi, misi dan strategi yang jelas akan merupakan suatu kekuatan dalam menjalankan roda organisasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebaagaimana dalam firman-Nya: ‘’Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.’’ (QS. Al-Ahzab:21). Sebenarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirnya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya: ‘’Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.’’ (Al-Hadist). Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kiurangnya empat sifat dalam menjalankan kepemimpinnannya, yakni: Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF). Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya. Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi. Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya. Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Selain itu juga Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: ‘’Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.’’ Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju. Pemimpin pendidik sekurang-kurangnya memiliki empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah), kedua memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (ilmun wasi’un), ketiga memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah), keempat memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam menjalankan tugas profesinya. DAFTAR PUSTAKA Affandi, Idrus. 2013. Idealis, Pragmatis, dan Religius. Bandung: Mutiara Press. Budimansyah, Dasim, dan Kokom Komalasari (Ed). 2011. Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa Penghargaan dan Penghormatan 70 tahun Prof. dr. H. Endang Somantri, M.Ed. Bandung: Widya Aksara Press. David Ulrich. 1999. Human Resource Champions: The Next Agenda fo Adding Value and Delivering Results. USA: Harvard Business School Press. George R. Terry. 2006. Dasar-Dasar Manajemen: Bisnis, Manajemen & Keuangan, Manajemen & Leadership. Jakarta: Bumi Aksara. Komara, Endang. 2014. Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung. Refika Aditama.

Kamis, 16 Januari 2014

PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL Oleh: Endang Komara (Guru Besar Sosiologi Pendidikan Kopertis Wilayah IV Dpk Pada STKIP Pasundan)

Abstrak Pembelajaran merupakan suatu bentuk interaksi yang bersifat edukatif antara guru dan siswa dengan mentransformasikan pengetahuan, sikap dan keterampilan agar menghasilkan siswa yang mampu berkomunikasi, berfikir kritis dan bekerja sama dalam kehidupan sosial. Kearifan lokal merupakan pandangan hidup dalam ilmu pengetahuan serta berbagaai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka meliputi seluruh unsur kehidupan agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa dan komunikasi serta kesenian. I. Pendahuluan Pendidikan menurut Sagala (2010:3) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kearifan lokal dalam bahasa Inggris dikonsepsikan sebagai local wisdom / local knowledge / local genious yang artinya kebijakan setempat atau pengetahuan setempat atau kecerdasan setempat. Sistem pemenuhan kebutuhan mereka meliputi seluruh unsur kehidupan agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, organisasi sosial, bahasa, komunikasi serta kesenian. Kearifan lingkungaan atau kearifan lokal masyarakat sudah ada di dalam kehidupan masyarakat semenjak zaman dahulu mulai dari zaman prasejarah hingga saat ini, kearifan lingkungan merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat. Menurut Wietoler (Akbar, 2006) kearifan lokal yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkiungan sekitarnya, perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun secara umum, budaya lokal atau budaya daerah dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah itu. Dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan oleh adanya kemajuan teknologi membuat orang lupa akan pentingnya tradisi atau kebudayaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, seringkali budaya lokal dianggap sesuatu yang sudah ketinggalan di abad sekarang ini, sehingga perencanaan pembangunan seringkali tidak melibatkan masyarakat. Pembelajaran akan lebih bermakna apabila pembelajaran menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran student centered daripada teacher centered. Hal ini sejalan dengan pendapat Suparno (Darlia, 2010:2) bahwa belajar bukan sekedar kegiatan pasif menerima materi dari guru, melainkan proses aktif menggali pengalaman lama, mencari dan menemukan pengalaman baru serta mengasimilasi dan menghubungkan antara keduanya sehingga membentuk makna. Makna tercipta dari apa yang siswa lihat, dengar, rasakan, dan alami. Untuk guru, mengajar adalah kegiatan memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi sendiri pengetahuannya lewat keterlibatannya dalam kegiatan pembelajaran. Dengan kata lain, sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Guru selalu berusaha agar kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat dilakukan dengan cara yang efektif dan efisien. Guru juga berperan penting dalam perancang strategi pembelajaran. Guru yang profesional hendaknya merancang pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menarik. Indikator guru yang profesional sebagai peraancang pembelajaran diantaranya: (1) menguasai kurikulum dan perangkat pembelajaran, maksudnya guru harus tanggap dalam penguasaan kurtikulum, dan perangkat pembelajaran, (2) menguasai materi, (3) menguasai berbagai macam metode, dan (4) mempu mengelola pembelajaran. Kemampuan tersebut kurang dipahami oleh guru, sehingga pembelajaran akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang kurang memuaskan. Hal ini menuntut guru untuk kreatif dalam menentukan strategi pengelolaan pembelajaran dengan menetapkan model pembelajaran yang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. II. Pembahasan A. Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dan Pendidikan Karakter Kearifan lokal berasal dari dua kata yaitu kearifan (wisdom), dan lokal (locaI). Secara umum makna local wisdom (kearifan setempat) dapat dipahami sebagai gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal. Pemaknaan terhadap kearifaan lokal dalam dunia pendidikan masih sangat kurang. Ada istilah muatan lokal dalam struktur kurikulum pendidikan, tetapi pemaknaannya sangat formal karena muatan lokal kurang mengeksplorasi kearifan lokal. Muatan lokal hanya sebatas bahasa daerah dan tari daerah yang diajarkan kepada siswa. Tantangan dunia pendidikan sangatlah kompleks. Apalagi jika dikaitkan dengan kemajuan global di bidang sains dan teknologi, nilai-nilai lokal mulai memudar dan ditinggalkan. Karena itu eksplorasi terhadap kekayaan luhur budaya bangsa sangat perlu untuk dilakukan. Kearifan lokal sesungguhnya mengandung banyak sekali keteladanan dan kebijaksanaan hidup. Pentingnya kearifaan lokal dalam pendidikan kita secara luas adalah bagian dari upaya meningkatkan ketahanan nasional kita sebagai sebuah bangsa. Budaya nusantara yang plural dan dinamis merupakan sumber kearifan lokal yang tidak akan mati, karena semuanya merupakan kenyataan hidup (living reality) yang tidak dapat dihindari. Pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memleihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Atas dasar itu pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan sesuatu yang benar dan yang salah tetapi pendidikan karakter juga menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai baik dan biasa melakukan (psikomotor). Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan bukan saja aspek ‘’pengetahuan yang baik (moral knowing), akan tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling), dan perilaku yang baik (moral action)’’. Pendidikan karakter menekanakan pada habit atau kebiasaan yang terus - menerus dipraktikkan dan dilakukan. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila. Pendidikan karakter berfungsi: (1) mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik; (2) memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur; (3) meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa. Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilain prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain: Takwa, bersih, rapi, nyaman, dan santun. Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional, yaitu; (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan massing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah. Yakni bersih, nyaman, disiplin, sopan dan santun. Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Pengkategorian nilai didasarkan pada pertimbangan bahwa pada hakekatnya perilaku seseorang yang berkarakter merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosio-kultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosiokultural dapat dikelompokkan dalam: (1) olah hati (spiritual & emotional development); (2) olah piker (intellectual development); (3) olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan (4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Proses ini secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi. B. Landasan Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal 1. Landasan Historis Kearifan lokal dapat bersumber dari kebudayaan masyarakat dalam suatu lokal tertentu. Dalam perspektif historis, kearifan lokal dapaat membentuk sejarah lokal. Sebab kajian sejarah lokal yaitu studi tentang kehidupan masyarakat atau khususnya komunitas dari suatu lingkungan sekitar tertentu dalam dinamika perkembangannya dalam berbagai aspek kehidupan. Widja (Koentjaraningrat, 1986). Awal pembentukan kearifan lokal dalam suatu masyarakat umumnya tidak diketahui secara pasti kapan kearifan lokal tersebut muncul. Pada umumnya terbentuk mulai sejak masyarakat belum mengenal tulisan (praaksara). Tradisi praaksara ini yang kemudian melahirkan tradisi lisan. Secara historis tradisi lisan banyak menjelaskaan tentang masa lalu suatu masyarakat atau asal-usul suatu komunitas. Perkembangan tradisi lisan ini dapat menjadi kepercayaan atau keyakinan masyarakat. Dalam masyarakat yang belum mengenal tulisan terdapat upaya untuk mengabdikan pengalaman masa lalunya melalui cerita yang disampaikan secara lisan dan terus menerus diwariskan dari generasi ke generasi. Pewarisan ini dilakukan dengan tujuan masyarakat yang menjadi generasi berikutnya memiliki rasa kepemilikan atau mencintai cerita masa lalunya. Tradisi lisan merupakan cara mewariskan sejarah pada masyarakat yang belum mengenal tulisan, dalam bentuk pesan verbal yang berupa pertanyaan yang pernah dibuat di masa lampau oleh generasi yang hidup sebelum generasi yang sekarang ini. 2. Landasan Psikologis Secara psikologis pembelajaran berbasis kearifan lokal memberikan sebuah pengalaman psikologis kepada siswa selaku pengamat dan pelaksana kegiatan. Dampak psikologis bias terlihat dari keberanian siswa dalam bertanya tentang ketidaktahuannya, mengajukan pendapat, presentasi di depana kelas, dan berkomunikasi dengan masyarakat. Dengan pemanfaataan lingkungan maka kebutuhan siswa tentang perkembangan psikologisnya akan diperoleh. Karena lingkungan meruapakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan dan perkembangan perilaku individu, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-psikologis, termasuk di dalamnya adalah belajar. Terhadap faktor lingkungan ini ada pula yang menyebutnya sebagai empirik yang berarti pengalaman. 3. Landasan Politik dan Ekonomi Landasan politik dan ekonomi pembelajaran berbasis kearifan lokal ini memberikan sumbangan kompetensi untuk mengenal persaingan dunia kerja. Dari segi ekonomi pembelajaran ini memberikan contoh nyata kehidupan sebenarnya kepada siswa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena pada akhirnya siswa dididik dan disiapkan untuk menghadapi persaingan global yang menuntut memiliki keterampilan dan kompetensi yang tinggi di lingkungan sosial. 4. Landasan Yuridis Secara yuridis pembelajaran berbasis kearifan lokal mengarahkan peserta didik untuk lebih menghargai warisan budaya Indonesia. Sekolah tidak hanya memiliki peran membentuk peserta didik menjadi generasi yang berkualitas dari segi kognitif, tetapi juga harus membentuk sikap dan perilaku peserta didik sesuai dengan tuntutan yang berlaku. Apa jadinya jika di sekolah peserta didik hanya dikembangkan ranah kognitifnya, tetapi diabaikan afektifnya. Tentunya akan banyak generasi penerus bangsa yang pandai secara akademik, tetapi lemah dalam pada tataran sikap dan perilakunya. Hal demikian tidak boleh terjadi, karena akan membahayakan peran generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Nilai-nilai kearifan lokal yang ada di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan untuk kegiataan pembelajaran, seperti rasa nasionalisme yang akhirnya akan menimbulkan kecintaan terhadap budaya sendiri. C. Pendekatan ilmiah dalam Pembelajaran Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach). Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap (attitude), keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasii substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘’mengapa’’. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘’bagaimana’’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensii sikap, keterampilan dan pengetahuan. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pendekatan ilmiah apabila memenuhi 7 (tujuh) kriteria pembelajaran berikut; pertama, materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Kedua, penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru siswa terbebas dari prasangka yang serta merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. Ketiga, mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Keempat, mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan sama lain dari materi pembalajaran. Kelima, mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. Keenam, berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung jawabkan. Ketujuh, tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya. Pendekatan ilmiah dalam pembelajaran meliputi antara lain: pertama, mengamati dalam pembelajaran dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti menentukan objek apa yang akan diobservasi, membuat pedoman observasi sesuai dengan lingkup objek yang akan diobservasi, menentukan secara jelas data apa yang perlu diobservasi baik primer maupun sekunder, menentukan di mana tempat objek yang akan diobservasi, menentukan secara jelas bagaimana observasi akan dilakukan untuk mengumpulkan data agar berjalan mudah dan lancar, menentukan cara dan melakukan pencatatan atas hasil observasi seperti menggunakan buku catatan-kamera-tape recorder-pedeo perekam dan alat tulis lainnya. Kedua, menanya. Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta didik untuk meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik. Kriteria pertanyaan yang baik adalah singkat dan jelas, menginspirasi jawaban, memiliki fokus, bersifat probing atau divergen, bersifat validatif atau penguatan, memberikan kesempatan peserta didik untuk berpikir ulang, merangsang peningkatan tuntutan kemampuan kognitif dan merangsang proses interaksi. Ketiga, menalar. Istilah menalar dalam kerangka proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang dianut dalam Kurikulum 2013 untuk menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif daripada guru. Penalaran adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Terdapat dua cara menalar, yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif. Penalaran induktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari fenomena atau atribut khusus untuk hal-hal yang bersifat umum. Jadi, menalar secara induktif adalah proses penarikan simpulan daari kasus-kasus yang berisifat nyata secara individual atau spesifik menjadi simpulan yang bersifat umum. Kegiatan menalar secara induktif lebih banyak berpijak pada observasi inderawi atau pengamatan empirik. Penalaran deduktif merupakan cara menalar dengan menarik simpulan dari pernyataan atau fenomena yang bersifat umum menuju pada hal yang bersifat khusus. Pola penalaran deduktif dikenal dengan pola silogisme (kategorial, hipotesis dan alternatif) Keempat, mencoba. Dimasudkan untuk mengembangkan berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan dan pengetahuan. Akativitas pembelajaran yang nyata antara lain: 1) menentukan tema atau topik sesuai dengan kompetensi dasar menurut tuntutan kurikulum, 2) mempelajari cara-cara penggunaan alat dan bahan yang tersedia dan harus disediakan, 3) mempelajari dasar teoretis yang relevan dan hasil eksperimen sebelumnya, 4) melakukan dan mengamati percobaan, 5) mencatat fenomena yang terjadi, menganalisis, dan menyajikan data, 6) menarik simpulan atas hasil percobaan; dan 7) membuat laporan dan mengkomunikasikan hasil percobaan. III. Penutup Berdasarkan uraian dan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: A. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran dan tabiat serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. B. Pembelajaran berbasis kearifan lokal harus berlandaskan secara historis, psikologis, politik dan ekonomi serta berlandaskan secara yuridis. C. Mudah-mudahan dengan menggunakan pendekatan ilmiah peserta didik diharapkan memiliki Standar Kompetensi Lulusan seperti: 1) Sikap, pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, alam sekitar serta dunia dan perabannya; 2) Keterampilan, pribadi yang berkemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkrit; 3) Pengetahuan, pribadi yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan berwawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan dan peradaban. DAFTAR PUSTAKA Akbar, Sa’dun. 2006. Pengembangan Kurikulum IPS. Malang: Pascasarjana Universitas Kanjuruhan. Kemendiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia. Komara, Endang. 2014. Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung: Refika Aditama. Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Rabu, 15 Januari 2014

PENGEMBANGAN PROFESI GURU

Profesi guru harus dihargai dan dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Hal ini dikarenakan guru merupakan tenaga profesional yang mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat penting dalam mencapai visi pendidikan 2025 yaitu menciptakan insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Guru yang profesional wajib melakukan pengembangan keprofesian secara berkelanjutan. Keprofesian berkelanjutan ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masa depan yang berkaitan dengan profesinya sebagai guru. Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai perwujudan hasil penilaian kinerja guru dan didukung dengan hasil evaluasi diri. Apabila hasil penilaian kinerja guru masih berada di bawah standar kompetensi yang dipersyaratkan dalam penilaian kinerja guru, maka guru diwajibkan untuk mengikuti program pengembangan keprofesian berkelanjutan yang diorientasikan sebagai hasil pembinaan dalam pencapaian standar kompetensi guru. Sementara itu, guru yang hasil penilaian kinerjanya telah mencapai standard kompetensi yang dipersyaratkan dalam penilaian kinerja guru, kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan diarahkan kepada pengembangan kompetensi untuk memenuhi layanan pembelajaran berkualitas dan peningkatan karir guru. Sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pengembangan keprofesian berkelanjutan merupakan salah satu unsur utama yang diberikan angka kredit untuk kenaikan pangkat/jabatan fungsional guru. Pelaksanaan kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan diharapkan dapat menciptakan guru profesional, bukan hanya sekedar memiliki ilmu pengetahuan yang luas, tetapi juga memiliki kepribadian yang matang. Dengan demikian, guru mampu menumbuhkembangkan minat dan bakat peserta didik sesuai dengan bidangnya dan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Sehingga guru sebagai pembelajar abad ke-21 mampu mengikuti perkembangan ilmu dalam bidangnya dan dapat memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap yang sesuai dengan standar kompetensi yang harus dimiliki peserta didik. Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap, berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru. Dengan demikian, guru dapat memelihara, meningkatkan dan memperluas pengetahuan dan keterampilannya untuk melaksanakan proses pembelajaran secara profesional. Pembelajaran yang berkualitas diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik. Pengembangan keprofesian berkelanjutan mencakup kegiatan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan refleksi yang didesain untuk meningkatkan karakteristik, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan. Melalui siklus evaluasi, refleksi pengalaman belajar, perencanaan dan implementasi kegiatan pengembangan keprofesian guru secara berkelanjutan, maka diharapkan guru akan mampu mempercepat pengembangan kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian untuk kemajuan karirnya. Tujuan umum pengembangan keprofesian berkelanjutan menurut Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. (2012) adalah untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di sekolah/madrasah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Sedangkan secara khusus tujuan pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah: pertama, meningkatkan kompetensi guru untuk mencapai standard kompetensi yang ditetapkan dalam peraturan perundangan yang berlaku. Kedua, memutakhirkan kompetensi guru untuk memenuhi kebutuhan guru dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk memfasilitasi proses pembelajaran peserta didik. Ketiga, meningkatkan komitmen guru dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai tenaga professional. Keempat, menumbuhkan rasa cinta dan bangga sebagai penyandang profesi guru. Kelima, meningkatkan citra, hakrkat dan martabat guru di masyarakat. Keenam, menunjang pengembangan karir guru. Unsur-unsur pengembangan keprofesian berkelanjutan menurut Permenneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2009, unsur kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan meliputi: Pertama, pengembangan diri dengan cara mengikuti diklat kepemimpinan, diklat fungsional dan diklat teknis. Kedua, publikasi ilmiah yang meliputi presentasi pada forum ilmiah; publikasi ilmiah berupa hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal; publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru. Ketiga, karya inovatif yakni karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi dan seni. Akhirnya, mudah-mudahan pengembangan keprofesian berkelanjutan ini diharapkan akan memberikan manfaat. Pertama, bagi peserta didik memperoleh jaminan pelayanan dan pengalaman belajar yang efektif. Kedua, bagi guru dapat memenuhi standard dan mengembangkan kompotensinya, sehingga mampu menghadapi perubahan internal dan eksternal dalam memenuhi kebutuhan belajar peserta didik untuk menghadapi kehidupannya di masa depan. Ketiga, bagi sekolah/madrasah mampu memberikan layanan pendidikan yang berkualitas bagi peserta didik. Keempat, bagi orang tua/masyarakat memperoleh jaminan bahwa anak mereka mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan pengalaman belajar yang efektif. Kelima, bagi pemerintah memberikan jaminan kepada masyarakat tentang layanan pendidikan yang berkualitas dan profesional. *** Semoga ***.

Sabtu, 04 Januari 2014

PEGEMBANGAN KARAKTER DI PERGURUAN TINGGI Oleh: ENDANG KOMARA Guru Besar Kopertis Wilayah IV Dpk Pada STKIP Pasundan dan Wakil Ketua Bidang Akademik (Dipublikasikan pada Rubrik Opini Pikiran Rakyat tanggal 16 Desember 2013)

Abstrak Pembangunan karakter bangsa secara fungsional memiliki tiga fungsi utama yaitu pertama, fungsi pembentukan dan pengembangan potensi, kedua fungsi perbaikan dan penguatan, dan ketiga fungsi penyaringan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat. Bangsa Indonesia harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter. Karena pembangunan karakter inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup peserta didik, terutama di perguruan tinggi. Abstract Development of a functional national character has three main functions: first, the formation and development of the potential function, the second function of repair and reinforcement, and the third function of filtering the culture of other nations that do not conform to the cultural values and character of the nation's dignity. Indonesian nation must be built to put the character development. Because character development is what will make Indonesia into a great nation, advancing and victorious and dignified. Education is an effort to promote the growth of good character (inner strength, character), mind, and body of the child. The parts that should not be separated so that we can advance the perfection of life of our children, especially in college. A. Pendahuluan Permasalahan bangsa yang dihadapi saat ini meliputi: disorientasi dalam implementasi nilai-nilai Pancasila, bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, ancaman disintegrasi bangsa dan melemahnya kemandirian bangsa. Hal tersebut perlu melakukan penguatan dan memperkokoh Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dilakukan melalui sosialisasi/penyadaran, pendidikan, pemberdayaan, pembudayaan dan kerjasama. Faktor-faktor penyebab degradasi karakter bangsa menurut Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum (Staf Ahli menteri Sekretaris Negara RI) yang disampaikan pada Kegiatan Seminar Nasional dalam HUT Korpri ke-42 (29 November 2013) di Aula Kopertis Wilayah IV yakni, pertama, menonjolnya kepentingan kelompok dan golongan sendiri, sehingga kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara semakin dikesampingkan bahkan cenderung dikorbankan. Kedua, menguatnya semangat primordialisme dan tumbuhnya gejala separatis. Ketiga, penggunaan kekerasan dan pemaksaan atas dasar mayoritas sehingga menimbulkan konflik antar etnis. Keempat, lunturnya budaya penghormatan kepada simbol-simbol Negara (Bendera, Lambang Negara, Presiden dan lain-lain). Kelima, lunturnya semangat kepahlawanan dan perjuangan bangsa (heroisme). Keenam, munculnya sikap apatis terhadap proses pembangunan nasional. Ketujuh, maraknya euphoria otonomi daerah. Kedelapan, tidak ada rasa hormat dan kebanggaan terhadap Bapak Bangsa. B. Permasaalahan dan Tujuan Adapun permasalahan yang akan dipertanyakan adalah: “Bagaimana Pengembangan Karakter di Perguruan Tinggi”. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dari tulisan ini adalah ingin mendapatkan gambaran mengenai pengembangan karakter di perguruan tinggi. C. Pembahasan 1. Isi Pendidikan Karakter Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi menusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh karakter masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari karakter bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda. Menurut Elkind dan Sweet (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut: ‘’Character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”. Maksudnya, pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti. Ketika kita berpikir tentang jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin mereka bisa menilai apa yang benar, peduli secara mendalam tentang apa yang benar kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar, bahkan dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam. Dengan demikian pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru/dosen, yang mampu memepengaruhi karakter peserta didik. Guru/dosen membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara-cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Para pakar pendidikan pada umumnya sependapat tentang pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan formal. Namun demikian, ada perbedaan pendapat diantara mereka tentang pendekatan dan modus pendidikannya. Berhubungan dengan pendekatan sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara Barat, seperti pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, dan pendekatan krafikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional, yakni penanaman nilai-nilai sosial tertentu dalam diri peserta didik. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter bisa berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang. Orang berkarakter berarti orang yang memiliki watak, kepribadian, budi pekerti atau akhlak. Dengan makna seperti ini berarti karakter identik dengan kepribadian atau akhlak. Kepribadian merupakan ciri atau karakteristik atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari proses alamiah sebagai hasil yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan sejak lahir. Menurut Kevin Ryan dan Bohlin (2001) pendidikan karakter adalah sebagai upaya sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Selanjutnya ia menambahkan, ‘’Character to conceived has threeinterrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior’’. Karakter mulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan. Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills). Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah ‘’bawaan, hati, jiwa, kepribadian, karakter dan akhlak mulia, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak’’. Adapun berkarakter adalah kepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaannya). Setelah diadakan pengkajian dan rekonseptualisasi terhadap nilai isi pendidikan karakter merujuk kepada nilai-nilai agama, nilai-nilai yang terkandung dalam UUD 1945, dan nilai-nilai yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam adatr istiadat masyarakat Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika. Menurut Pathurrohman, dkk. (2013:17-18), secara kurikuler, isi pendidikan karakter pada dasarnya terdiri atas: 1) nilai-nilai esensial karakter dan, 2) wahana pendidikan karakter yang merupakan substansi dan proses pendidikan mata pelajaran yang relevan. Nilai-nilai esensial karakter adalah sejumlah konsep nilai dan perilaku yang secara substantif dinilai sebagai substansi utama pendidikan karakter, antara lain sebagaimana yang telah dirumuskan dalam ‘’Pedomana Penanaman Karakter’’ sebanyak 56 butir, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1999. Selanjutnya, Sedyawati (1997:4) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan karakter merupakan terjemahan dari pengertian moralitas yang mengandung beberapa pengertian, antara lain adat istiadat, sopan santun dan perilaku. Oleh sebab itu pengertian karakter yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku, karakter meliputi sikap yang dicerminkan oleh perilaku. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:623) yang dimaksud karakter adalah sifat-sifat kejiwaan; akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain: tabiat; watak. Budi merupakan alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik buruk, tabiat, akhlak, watak, perbuatan baik; daya upaya dan akal. Perilaku diartikan sebagai tanggapan atau reaksi individu yang berwujud dalam gerakan (sikap) tidak hanya badan tetapi jug ucapan. Pendidikan karakter berkaitan dengan sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa serta alam sekitar. Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh akktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia maupun lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Jadi karakter peserta didik merupakan suatu kualitas atau sifat baik menurut norma agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional yang terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan identitas individu, sebagai hasil dari pengalaman belajar peserta didik. Menurut Pathurrohman, dkk. (2013:19-20), ada 6 (enam) pilar penting karakter manusia yang dapat digunakan untuk mengukur dan menilai watak/perilakunya, yaitu: respect (penghormatan), responsibility (tanggung jawab), citizenship-civic-duty (kesadaran berwarganegara), fairness (keadilan), caring (kepedulian dan kemauan berbagi) dan tustworthiness (kepercayaan). Adapun nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa yang diidentifikasi sebagai berikut: Tabel 1: Nilai dan Deskripsi Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Nilai Deskripsi 1. Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain. 2. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan. 3. Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. 4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. 5. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya. 6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki. 7. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. 8. Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. 9. Rasa ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat dan didengar. 10. Semangat Kebangsan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. 11. Cinta Tanah air Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian dan penghargaana yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. 12. Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain. 13. Bersahabat Komunikatif/tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sam dengan orang lain. 14. Cinta Damai Sikap, perkataan dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya. 15. Gemar Membaca Kebisaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya. 16. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. 17. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan. 18. Tanggung Jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadaap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa. Sumber: Diadaptasi dari Pathurrohman, dkk. (2013:19-20) Karena terlalu banyak nilai-nilai karakter, maka Menteri Pendidikan Nasional telah memilih nilai-nilai inti (core values) yang akan dikembangkan dalam implementasi pendidikan karaakter di Indonesia. Nilai-nilai inti yang dipilih tersebut adalah: OTAK HATI Cerdas Jujur Tangguh Peduli Gambar 1: Nilai-Nilai Karakter yang Dipilih sebagai Nilai-Nilai Inti (Core Values) Gambar tersebut di atas menunjukkan bahwa nilai pada kolom pertama bersifat personal, sedangkan nilai pada kolom kedua bersifat nilai sosial. Juga menunjukkan bahwa karakter seorang peserta didik amat ditentukan oleh perangai (trait) dari otak (head, mind), dan hati (heart). Hal itu bukan berarti aspek olah raga (kinestetika) dan olah rasa dan karsa tidak ikut menentukan tetapi keduanya juga ditentukan bagaimana pikiran dan hati berproses. 2. Pengembangan Karakter di Perguruan Tinggi Karakter peserta didik adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya, dan adat istiadat. Bahkan Stephen R. Covey (1999) mengemukakan bahwa: “… who planted the thought will reap the word, who plantedwords will reap deeds, who will actreap a habit, who will reap a habit sow a character, who planted a character will reap a destiny’’. Maksudnya siapa yang menanam pikiran akan menuai kata, siapa menabur perkataan akan menuai perbuatan, siapa yang bertindak akan menuai kebiasaan, siapa yang menabur kebiasaan akan menuai karakter, siapa yang menabur karakter akan menuai nasib. Kalimat bijak tersebut di atas menunjukkan bahwa suatu karakter akan terbentuk atau dapat diberdayakan dengan proses panjang. Proses terbentuknya suatu karakater bukan hanya diawali oleh proses berpikir yang menetap memiliki nalar kecerdasan yang berjalan normal, artinya yang dimaksud memacu pikiran, bukan asal berpikir, atau sembarang pikiran yang muncul dalam otak/nalar seseorang, tetapi telah terbentuknya pengetahuan, daya pikir yang cerdas. Daya nalar berjalan dengan baik, maka akan melahairkan suatu aktivitas atau kegiatan/perbuatan sebagai hasil dari berpikir. Aktivitas dan berbuat ini mamtikan gerakan-gerakan fisik. Semua struktur tubuh fisik bekerja sesuai dengan arahan dari otak pikirannya. Karakter tidak akan tumbuh dengan tiba-tiba dan bersifat instan tetapi justru memerlukan perubahan (change) tubuh, yang terus menerus sebagai perirntah dari pikirannya. Setelah terlatih dan terus menerus berpikir dan berbuat, maka akan muncul habitus atau pembiasaan; orang bisa karena biasa. Dipastikan apabila pikiran-pikiran yang timbul dilandasi atau diselimuti atau berada dalam koridor musyrik, dipengaruhi setan, perbuatan yang sama dengan setan, perbuatan tidak berakhlak yang ujungnya berkarakter musyrik setaniah dan karakter yang bertentangan dengan akhlak karimah. Secara filosofis, manusia yang pandai bertanya, sebenarnya ia sedang berpikir; murid/peserta didik yang pandai bertanya; pada hakikatnya menempati posisi lebih tinggi derajatnya daripada murid/peserta didik yang pandai menjawab. Murid yang pandai menjawab adalah pasif, sedangkan siswa yang pandai bertanya adalaha dinamis dan daya nalaranya kritis. Tentunya isi pertanyaan bukan hanya sekedar bertanya tanpa isi, tanpa referensi dan fakta. Seperti Bani Israil terhadap Nabi Musa As, pertanyaan-pertanyaannya bukan berdasarkan pikiran dan akal sehat, bukan mencari kebenaran, tetapi menghindari dari jeratan hukum yang akan diberikan, dan itulah contoh pertanyaan berpikir yang diselimputi arahan setan. Manusia bertanya pada hakaikatnya berpikir dan belajar ingin tahu sesuatu. Belajar dan pembelajaran esensinya memiliki tiga makna, yaitu sesuatu aktivitas disebut belajar atau sesuatu itu terjadi pembelajaran, apabila lahirnya pengetahuan baru, lahirnya kemampuan baru dan lahirnya perubahan baru. Tumbuhnya pikiran yang melahirkan perkataan, perbuatan, kemudian tumbuh dana muncul habitus/kebiasaan yang akhirnya akan terbentuk karakter, memerlukan waktu terus menerus dan kondisi lingkungan yang mendukung, di samping ditunjang dengan keteladan dan motivasi yang tinggi dan cermat. Pendidikan karakter merupakan pendidikan yang komprehensif, di dalamnya memuat ilmu pengetahuan, budi pekerti (akhlak, karakter), kreativitas dan inovatif. Bahkan Ki Hajar Dewantara pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan pertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect), dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Bangsa berkarakter yakni bangsa yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab berdasarkan Pancasila yang bercirikan tangguh, kempetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi Iptek yang semuanya dijiwai oleh IMTAQ kepada Tuhan yang Maha Esa. Adapun langkah-langkah strategis pengembangan karakter bangsa yakni, pertama membangun sikap, moral, dan etika segenap komponen bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 agar dapat meredam kepentingan kelompok dan golongan sendiri, dan lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kedua, menggugah kesadaran segenap komponen bangsa untuk menerima, menghormati dan menghargai segala bentuk keragaman bangsa sebagai karunia Tuhan Yang Maha Kuasa dalam naungan Bhineka Tunggal Ika. Ketiga, mensosialisasikan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara secara masif untuk membangun kehidupan nasional yang harmonis sekaligus mengoptimalkan pendidikan karakter yang sejalan dengan proses reformasi dan tidak indoktrinasi. Keempat, meningkatkan rasa hormat kepada simbol-simbol Negara (Bendera, Lambang Negara, Presiden dan lain-lain), kepada para pahlawan dan perjuangan bangsa (heroisme). Menurut Soemarno Soedarsono (2012), bahwa substansi inti pengembangan karakter bangsa di Perguruan Tinggi untuk mewujudkan Visi Indonesia 2025 yaitu, pertama, National and Character Building yaitu wawasan kebangsaan yang berorientasi masa depan, jati diri yang tangguh di era global serta kemandirian, daya saing dan akhlak mulia. Kedua, Unity and Nation Harmony yaitu persatuan dan harmoni sosial yang makin kokoh, membangun bangsa Indonesia yang bersatu, adil dan makmur dalam tatanan kehidupan sosial kemasyarakatan yang harmonis dan wawasan kebangsaan yang kukuh. Ketiga, National Stability, yaitu stabilitas nasional yang makin mantap dan dinamis yang mendukung penyelenggaraan pembangunan di segala lini. Keempat, Democracy and Society yaitu demokrasi dan keterbukaan yang makin maju dan makin matang dalam penyelenggaraan kehidupaan berbangsa. Demokrasi yang makin santun dan bermartabat. Demokrasi yang memfasilitasi kokohnya masyarakat madani yang egaliter. Kelima, Law and Order yaitu hokum dan ketertiban yang konsisten dan berkeadilan. Hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu. Keenam, Economy Growth yaitu pertumbuhan ekonomi yang makin tinggi ditopangh oleh kemampuan nasionaal dalam menyelenggarakan aktivitas ekonomi yang makin produktif dan makin mandiri. Ketujuh, People Welfare yaitu kesejahteraan rakyaat yang makin meningkat dengan keberhasilan pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan taraf hidup masyarakat. Kedelapan, Good Governance yaitu pembangunan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan pemberantasan korupsi yang terus dilanjutkan dan diterapkan secara konsisten. Kesembilan, Intensive Regional Development, yaitu pembangunan daerah di seluruh wilayah tanah air harus berjalan makin intensif. Tidak boleh ada satu pun daerah yang tertinggal terlalu jauh dibandingkan daerah lainnya. Kesepuluh, Global Partnership, yaitu kemitraan dan kerjasama global yang dikembangkan dengan mengedepankan prinsip kerjasama dan kemitraan yang terbuka, saling menguntungkan dan berkeadilan. D. Kesimpulan Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan ke dalam hal-hal sebagai berikut: 1. Membangun sikap, moral dan etika segenap komponen bangsa sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 agar dapat meredam kepentingan kelompok dan golongan sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Juga menggugah kesadaran segenap komponen bangsa untuk menerima, menghormati dan menghargai segala bentuk keragaman bangsa sebagai karunia Tuhan Yang Maha Kuasa dalam naungan Bhineka Tunggal Ika. 2. Mensosialisasikan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) secara masif untuk membangun kehidupan Nasional yang harmonis sekaligus mengoptimalkan pendidikan karakter yang sejalan dengan proses refeormasi dan tidak indoktrinasi. 3. Akhirnya mudah-mudahan kunci sukes pengembangan karakter bangsa di masa depan akan melahirkan stabilitas politik yang mantap, integrasi-kerukunan sosial-dan harmoni yang serasi, demokrasi-keadilan dan kesejahteraan yang nyata, kepemimpinan dengan visi ke depan dan kemitraan global (partnership) yang erat. DAFTAR PUSTAKA Fathurrohman, Pupu, Aa Suryaman, Fenny Fatriany. 2013. Pengembangan Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama. Depdikbud. 1997. Petunjuk Pelaksanaan Wawasan Wiyatamandala. Jakarta: Direktorat Pembinaan Kepeserta didikan Ditjen Dikdasmen. Sedyawati, Edi, dkk. 1999. Pedoman Penanaman Karakter Luhur. Jakarta: Balai Pustaka. Soedarsono, Soemarmo. 2012. Nation & Character Building di Bumi Indonesia: Saatnya Indonesia Bangkit dari Keterpurukan. Jakarta: Kompas Gramedia. Wildan, Dadan. 2013. Peran PTS dalam Mempersiapkan dan Mengembangkan Karakter Bangsa untuk Mewujudkan Visi Indonesia 2025. Makalah Seminar Nasional HUT KORPRI Ke-42. Bandung: Korpri Kopwil Wilayah IV.