Senin, 09 Maret 2009

DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP KEHIDUPAN MASYARAKAT Oleh: Prof. Dr. Endang Komara, M.Si

This research is carried out in subdistrict Jatiluhur, Purwakarta District. The aim of the research is about the description of the industrialization impact on the soacial life symbolized by the changes in the work field, education, and social life patterns.
The type of research is a descriptive survey by using stratified random sampling sample. The technique of analysing data yielded from the research is a cross sectional analysis through comparing the stratified people in the vallages with textile industries such as Kembangkuning and Cibinong villages and those who live in the vallages without the industries such as Jatiluhur and Cikaobandung villages.
The description is based on the measurement of variables: (1) Change of the work field pattern which is emphasized on how far away the work field change the environment, and stretches the social network. Their indikators are the incomes of the people who work for the textile industries and the indreases of the incomes of the people who working in economics sectors; (2) Change in the education pattern which is emphasized on the achievement of education through both formal and informal. Their indicators are the period of education and the shift of education; (3) Change in the family life pattern which is emphasized on the family burden, the dinamics of life, and the income of family. Their indicators are the members of family, the changes in the family quality, and the amount of their incomes.
The results of the research show that there are differences of the changes in work field pattern, education pattern, and family life pattern of the stratified people who live in the villages examined. Therefore, the impact of industrialization on the social life can be felt by the society through the form of change in work field pattern, in education pattern, and in family life pattern.
Key word: Industrialization impact on the social life symbolized by the changes in the work field, education, and social life pattern.


















PENGANTAR


Negara yang sedang berkembang pada umumnya memiliki jumlah penduduk banyak, yang secara potensial masih harus dikembangkan lagi agar menjadi modal dasar pembangunan yang efektif. Peningkatan mutu modal insani tersebut mutlak perlu dikembangkan jika negara tersebut ingin melihat pembangunan yang sedang diupayakan berhasil mencapai tujuannya. Hal ini juga berlaku di Indonesia yang jumlah penduduknya pada tahun 2004 sudah mencapai sekitar 211,1juta jiwa, yang sering secara ekplisit dinyatan bahwa penduduk merupakan modal dasar pembangunan.
Perubahan masa depan yang akan terjadi di Indonesia menyangkut dimensi sosial, politik, kultural serta ekonomi di mana Indonesia mulai masuk era industrialisasi. Industrialisasi bertujuan menjadikan sektor industri yang mantap, kuat dan stabil melalui usaha terpadu yang melibatkan seluruh rakyat dengan berlandaskan azas demokrasi ekonomi, pemerataan dan kesempatan berusaha, meningkatkan ekspor dan tetap memelihara kelestarian lingkungan hidup.
Industri yang maju di dalamnya terkandung struktur sosial yang kokoh, masyarakatnya memiliki nilai budaya yang mampu menjadi acuan dalam mengembangkan dan meningkatkan produksi, dan terkait erat dengan kegiatan ekonomi umumnya, dan didukung oleh penguasaan teknologi (pendidikan dan pengetahuan) serta mempunyai daya saing yang kuat dalam memasuki pangsa pasar global, baik AFTA 2003, maupun pasar bebas 2010 bagi negara maju dan 2020 bagi negara berkembang. Adapun dimensi budaya tampak pada tumbuh dan berkembangnya nilai budaya baru dalam lingkungan keluarga yang sangat bermanfaat bagi kebutuhan masyarakat industri, seperti disiplin yang tinggi, taat beribadah dan memiliki motivasi yang tinggi. Fenomena selanjutnya, perubahan dari sikap dan tingkah laku dogmatik dengan adat istiadat irasional yang kuat, konsumtif, dan kekerabatan yang tinggi akibat banyaknya waktu luang pada masyarakat agraris kemudian menjadi sikap dan tingkah laku yang rasional, etos kerja yang tinggi, disiplin waktu, hemat, kompetisi, berprestasi, orientasi ke masa depan, spesialisasi pekerjaan berdasarkan pendidikan, kerja keras, produktif, mandiri dan kreatif.
Munculnya kawasan industri dalam suatu wilayah dianggap membawa faktor positif dan negatif bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu, seperti (1) kehadiran industri dapat membuka lapangan kerja bagi penduduk setempat; (2) membuka lapangan kerja di bidang sektor informal; (3) menambvah pendapatan asli daerah bagi daerah tersebut. Adapun hal-hal yang dianggap negatif itu ialah (1) menimbulkan kebisingan, polusi, dan limbah industri yang berbahaya bagi lingkungan; dan (2) persentuhan budaya yang bisa menimbulkan berbagai masalah sosial.
Tulisan ini disajikan untuk memahami, melakukan interpretasi, dan analisis terhadap hal-hal sebagai berikut: (1) industrialisasi berdampak terhadap pola lapangan kerja; (2) industrialisasi berdampak terhadap pola kehidupan keluarga dan; (3) industrialisasi berdampak terhadap pola pengembangan sumber daya manusia. Hasil yang diharapkan dari tulisan ini adalah di satu sisi untuk memperkaya kajian sosiologi tentang konsep perubahan sosial, dan di sisi lain secara praktis diharapkan menjadi bahan masukan bagi berbagai instansi, khususnya mengenai penyusunan kebijakan dan penanggulangan masalah berdasarkan tingkat kepentingannya berhubungan dengan dampak industrialisasi terhadap kehidupan masyarakat.


HIPOTESIS KERJA DAN METODE PENELITIAN

Proses industrialisasi bisa dipahami melalui konsep pembangunan, karena arti pembangunan dan industrialisasi seringkali dianggap sama. Konsep pembangunan bersifat dinamik, karena konsep itu bisa berubaha menurut lingkupnya. Apabila pembangunan itu dihubungkan pada setiap usaha pembangunan dunia, maka pembangunan akan merupakan usaha pembangunan dunia. Industrialisasi sebagai proses dan pembangunan industri berada pada satu jalur kegiatan, yaitu pada hakekatnya berfungsi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat. Industrialisasi tidaklah terlepas dari upaya peningkatan mutu sumber daya manusia, dan pemanfaatan sumber daya alam. Secara umum kaitan antara pembangunan dengan industrialisasi dijelaskan oleh Garna (1997:17-18), yakni: (1) bahan untuk proses industrialisasi dan pembangunan industri merupakan satu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; (2) pembangunan industri merupakan upaya meningkatkan mutu sumber daya manusia dan kemampuan memanfaatkan sumber daya alam; (3) pembangunan industri akan memacu dan menyangkut pembangunan sektor lainnya, yang dapat memperluas lapangan kerja yang diharapkan akan meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat dan; (4) dalam pembangunan industri akan terjadi ketimpangan yang merugikan, yang bersifat ekonomi ataupun non ekonomi.
Adapun hipotesis yang diajukan dalam tulisan ini adalah besar kecilnya dampak industrialisasi terhadap kehidupan masyarakat akan dipengaruhi oleh pola lapangan kerja, pola kehidupan keluarga dan pola pengembangan sumber daya manusia masyarakat setempat.
Sementara itu desain dalam penelitian adalah dengan menggunakan metode survei deskriptif (descriptive survey), dengan pertimbangan seperti dikemukakan oleh Nazir (1985:66), dan Komara (2004:65) merupakan suatu bentuk penelitian yang mencari fakta dengan interpretasi yang tepat tentang tata cara yang berlaku dalam masyarakat, situasi tertentu, termasuk tentang hubungan, kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang berlangsung dengan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Sedangkan menurut Hyman (dalam Tan, 1977:42) tujuan metode survei deskriptif adalah menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan frekuensi adanya hubungan tertentu antara suatu gejala dengan gejala lain di dalam masyarakat. Sejalan dengan itu Rusidi (1993:23) menyebut penelitian jenis ini bertujuan membuat deskripsi mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat suatu gejala sosial yang teramati pada suatu daerah tertentu secara sistematik, faktual dan teliti.
Di samping itu pula metode survei deskriptif bertujuan menemukan deskripsi general dan universal, yang berlaku pada sejumlah variasi situasi dan kondisi. Deskripsi general itu sendiri telah ditujukkan dengan konsep atau variabel dari penggolongan, katagorisasi dan klasifikasi fenomena secara abstrak. Sedangkan universalitas, terletak pada survei itu sendiri, artinya proses penyusunan “peta” wilayah atau daerah menurut variasi situasi dan kondisi (ekosistem) tertentu, alam, kehidupan sosial atau budaya tertentu. Dalam pengujian hipotesis menggunakan analisis tes X², yaitu untuk menguji apakah perincian frekuensi observasi di dalam suatu tabel kontingensi 2 x 2 dapat terjadi di bawah Ho (Sidney, 1985:133). Namun di samping menggunakan analisis data kuantitatif juga menggunakan analisis kualitatif, yang digunakan untuk menambah informasi serta melengkapi data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui teknik wawancara terstruktur yang dilengkapi dengan alat pengumpul data berupa kuesioner. Sedangkan data kualitatif diperoleh melalui teknik observasi partisipatif. Apabila ditabelkan, maka alur pemikiran dalam penelitian ini adalah seperti nampak pada gambar di bawah ini.



POLA LAPANGAN KERJA




MODERNISASI INDUSTRIALISASI KEHIDUPAN MASYARAKAT




POLA KEHIDUPAN KELUARGA POLA PENGEMBANGAN
SDM


Gambar 1: Kerangka Berpikir Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Modernisasi di Kecamatan Jatiluhur
Pendekatan sosiologi yang digunakan untuk membahas dampak industrialisasi terhadap kehidupan masyarakat di Kecamatan Jatiluhur melalui teori modernisasi. Karena modernisasi merupakan proses transformatif, dalam mencapai status modern, struktur dan nilai tradisional secara total harus menyesuaikan dengan seperangkat struktur dan nilai yang mendorong perubahan yang menuju masyarakat modern. Di samping itu modernisasi merupakan proses sistemik juga modernisasi melibatkan perubahan hampir seluruh aspek tingkah laku sosial, termasuk di dalamnya industrialisasi, urbanisasi, diferensiasi, sekularisasi, sentralisasi dan sebagainya.
Teori modernisasi berangkat dari pemikiran yang berorientasi pada faktor internal, yang artinya teori ini melihat bahwa maju dan mundurrnya masyarakat itu ditentukan olehnya. Paradigma dari teori ini diilhami oleh ide Tradisional-Modern (Parsons), yaitu tradisional mengacu kepada hakekat kebiasaan yang ada dan dipertahankan warga masyarakat dan modern menunjuk kepada sifat kemajuan (progress). Teori modernisasi menekankan pada faktor manusia dan nilai-nilai budaya sebagai pokok masalah pembangunan, sedangkan keterbelakangan yang terjadi lebih disebabkan oleh keterbelakangan institusi sosial dan unsur budaya dalam menghadapi perubahan, yang biasanya dianggap penghambat atau pendorong perubahan.
Teori modernisasi memberi solusi, bahwa untuk membantu Dunia Ketiga termasuk kemiskinan, tidak saja diperlukan bantuan modal dari negara maju, tetapi negara itu disarankan untuk meninggalkan dan mengganti nilai-nilai tradisional dan kemudian melembagan demokrasi politik. Justru di sinilah letak masalahnya, karena teori pembangunan menurut persepsi Dunia Ketiga menghendaki bahwa tradisi dan nilai-nilainya harus memberi nuansa kepada keadaan modern yang hendak dicapai. Pemberian modal, kelembagaan, dan ideologi dari negara maju ke negara dunia ketiga dapat meningkatkan ideologi dari negara maju ke negara dunia ketiga dapat meningkatkan perkembangan dari pinggiran ke pusat menurut asumsi Trickle Down Effect.
Segala apapun yang disebut modern sebagai dominasi barat itu pada suatu saat, besar kemungkinan akan mampu mengubah wajah dunia ketiga melalui proses modernisasi yang terus melanda tak hentinya. Menurut teori Max Weber (dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, 1930) bahwa penyebab utama kemajuan ekonomi itu adalah dorongan etika Protestan. Kerja yang berhasil dipastikan akam masuk surga, sedangkan kerja yang gagal akan masuk neraka, orang yang dengan kepercayaan ini maka akan bekerja keras untuk meraih sukses, tanpa pamrih.
Dalam Agama Islam dikenal bahwa Setelah kamu mengerjakan shalat, maka bertebaranlah di muka bumi, mencari rizki, dan perbanyaklah menyebut nama Tuhan. Selain itu juga disebutkan bahwa Bekerjalah kamu sebaik-baiknya seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan beribadahlah seakan-akan kamu akan mati besok. Etika Islam ini juga mendorong manusia untuk berkembang, karena landasan utamanya adalah bukan bekerja keras untuk material, tetapi karena faktor etika agama. Menurut Garna (1999:10) bahwa varian dalam Teori Modernisasi, ditunjukkan oleh beberapa model seperti: (1) Model struktural, menekankan pada perubahan struktural (Smelser, Rostow, David Apter, dan Gisendat); (2) Model Budaya, Modernisasi. Perubahan dalam struktur normatif, khususnya tentang nilai penghambat atau pendorong (Max Weber, Bellah, dan Arnold Rose) dan; (3) Model Psikologi, model yang memberikan penekanan terhadap perubahan tingkah laku, sistem kepentingan, dan akibat kepribadian (David McClelland, Joseph Kahl dan Hages).
Berdasarkan perspektif teori modernisasi maka dalam kenyataannya Kecamatan Jatiluhur dapat digolongkan ke dalam daerah agraris, karena mayoritas penduduk pada umumnya bertani. Namun mata pencaharian penduduk pada keempat desa tersebut (desa kembangkuning, Cibinong, Jatiluhur dan desa Cikaobandung) adalah sebagai buruh pabrik, khususnya pada industri tekstil. Hal ini juga sesuai dengan Doktrin dari Rostow (1966:12) bahwa pembangunan itu senantiasa harus melalui lima tahapan yang berkaitan satu sama lainnya yakni; (1) masyarakat tradisional; (2) prakondisi lepas landas; (3) lepas landas; (4) bergerak ke kedewasaan dan; (5) zaman konsumsi masal yang tinggi.
Prasyarat untuk bisa menuju perkembangan ekonomi adalah tahapan kedua, yang ciri-ciri masyarakat tradisional sudah mulai berganti. Dalam tahap kedua produktivitas pertanian meningkat pesat, munculnya mentalitas baru dan juga kelas sosial baru – wiraswasta (Hagen, 1966). Tahap ketiga adalah tahap yang kritis atau penting sekali guna pembangunan lebih lanjut. Di sinilah munculnya industrialisasi, di mana beberapa sektor tertentu akan berperan dalam menumbuhkan perekonomian. Tumin (dalam Lavner, 1989:430-431) melukiskan jenis-jenis perubahan sistem stratifikasi sosial ketika masyarakat menuju industrialisasi antara lain: (1) pembagian kerja semakin rumit sejalan dengan meningkatnya spesialisasi; (2) status cenderung berdasarkan atas prestasi sebagai pengganti status berdasarkan atas asal usul (ascription); (3) alat yang memadai untuk mengukur pelaksanaan pekerjaan orang yang terlibat dalam produksi menjadi perhatian umum; (4) pekerjaan bergeser dari kegiatan yang memberikan kepuasan hakiki, keperanan sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan artinya, mendapat ganjaran itu sendiri; (5) ganjaran yang tersedia untuk didistribusikan meningkat; (6) ganjaran didistribusikan atas dasar yang agak lebih kecil; (7) terjadi pergeseran dalam peluang hidup di berbagai status sosial; (8) terjadinya pergeseran dalam distribusi gengsi sosial meskipun keuntungan masyarakat modern dibanding masyarakat tradisional dan; (9) pergeseran dan masalah serupa terdapat juga dalam distribusi kekuasaan.
Untuk mengukur skala modernisasi individu, manusia modern hanya merupakan suatu konstruksi pikiran belaka, tetapi menjadi hal yang nyata dan dapat diidentifikasikan dalam setiap populasi. Secara rinci disebutkan bahwa ciri-ciri orang modern menurut Inkeles (1973:342) antara lain: (1) terbuka pada pengalaman baru; (2) peningkatan kemandirian dan otoritas figur tradisional; (3) kepercayaan terhadap kualitas ilmu pengetahuan dan pengobatan; (4) memiliki ambisi untuk dirinya sendiri maupun anak-anaknya untuk mencapai pekerjaan dan pendidikan yang tinggi; (5) menyukai kecepatan waktu dan perencanaan dan hati-hati; (6) menunjukkan minat yang kuat dalam kegiatan komunitas dan politik lokal, serta berperan aktif dan; (7) selalu mengikuti berita-berita hangat.

B. Industrialisasi di Kecamatan Jatiluhur
Industrialisasi merupakan proses peralihan dari satu bentuk masyarakat tertentu, menuju masyarakat industrial modern, yang dapat membedakan dengan jelas masyarakat barat yang kontemporer sebagai satu kesatuan, dengan bentuk masyarakat lain yang ada sebelumnya. Dalam pandangan ini, revoluasi industri merupakan salah satu revolusi yang terjadi di Inggris yang mempunyai dampak terhadap perkembangan disiplin soisologi.
Sejak itu industrialisasi merupakan suatu gejala yang terus meluas khususnya ke Eropa dan Amerika. Proses penyebaran gejala tersebut diterima oleh dunia sebagai sesuatu yang rasional, dengan nilai-nilai kebudayaan bangsa yang menerimanya tidak tersinggung, karena penerapannya membutuhkan pengetahuan dan keterampilan. Ini berarti tidak semua bangsa pada waktu yangt bersamaan mampu menerimanya. Negara yanag sudah siap menerimanya dan melaksanakannya disebut negara maju, sedangkan negara yang belum siap melaksanakannya disebut negara yang sedang berkembang. Wield (1983:80 mengemukakan tiga jenis definisi untuk memahami industrialisasi antara lain: (1) residual, industri berarti semua hal yang bukan pertanian; (2) sectoral, yang mengatakan bahwa industri adalah energi, pertambangan, dan usaha manufaktur dan; (3) bersifat micro dan macro, yaitu sebagai proses produksi, dan yang lebih luas lagi sebagai proses sosial industrialisasi. Adapun proses industrial dicirikan oleh adanya: (1) masyarakat yang melakukan proses produksi dengan menggunakan mesin; (2) berskala besar; (3) pembagian kerja teknis yang relatif kompleks; dan (4) menggunakan tenaga kerja yang keterampilannya bermacam-macam.
Industrialisasi pada suatu masyarakat berarti pergantian teknik produksi dari cara yang masih tradisional ke cara modern, yang terkandung dalam revolusi industri. dalam hal ini terjadi proses transformasi, yaitu suatu perubahan masyarakat dalam segala segi kehidupannya (Dharmawan, 1986:16). Adapun karakteristik masyarakat Kecamatan Jatiluhur yang sedang berproses menuju ke masyarakat industri antara lain: (1) selalu terbuka untuk menerima berbagai percobaan atau pengalaman, termasuk tingkah laku; (2) adanya pergeseran dari loyalitas yang disebabkan keturunan, dan semua penampilan perorangan yang telah diakui masyarakat setempat ke arah pimpinan nasional yang lebih objektif; (3) percaya pada ilmu pengetahuan dan kedokteran; (4) ambisi perorangan dan anak-anak untuk mencapai tingkat dan derajat yang lebih tinggi dalam bidang pekerjaan melalui pendidikan, baik akademi, politektik maupun universitas; (5) menghargai setiap perencanaan untuk kemajuan; (6) selalu memperhatikan perkembangan informasi, baik melalui media cetak maupun elektronik.
Hal tersebut di atas sejalan dengan pemikiran Huntington (1986:37), yang menjelaskan mengenai perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri. Ciri masyarakat tradisional antara lain: tidak menjaga waktu, orientasi pada masa lalu, status, terikat pada tempat asal, fanatik, tertutup, orientasi status otomatis (ascriptive), loyalitas primordial seperti agama, golongan, suku, keluarga, organisasi keluarga atau ikatan bersifat pribadi, bergantung pada nasib, hubungan dengan alam penyesuaian, kebudayaan ekspresif. Ciri masyarakat modern antara lain: menjaga waktu, orientasi pada masa depan, dinamik, mobilitas , toleran, terbuka, orientasi status berdasarkan prestasi (achievement), loyalitas pelingkup (negara, kedinasan dan profesi), organisasi non pribadi (ikatan kepentingan, atau berorientasi tujuan), organisasi besar atau efisiensi, hubungan non pribadi atas dasar masalah (lugas), persoalan ditimbulkan manusia dapat diatasi oleh manusia, hubungan dengan alam menguasai atau setidak-tidaknya mengatur, kebudayaan progresif.

C. Kehidupan Sosial Masyarakat Kecamatan Jatiluhur
Kehidupan masyarakat itu selalu berubah atau bersifat dinamik sesuai dengan keadaan lingkungannya yang berubah menuju tipe-tipe manusia modern dalam arti mempunyai pola pikir lebih maju sesuai dengan keadaan kehidupan mereka yang penuh persaingan. Untuk memahami hubungan sosial, seperti dirumuskan oleh Parsons (dalam Suwarsono, 1991:12-13) sebagai konsep faktor kebakuan dan pengukur (pattern variables), untuk menjelaskan perbedaan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern. Masyarakat tradisional cenderung memiliki hubungan kecintaan, yakni hubungan yang mempribadi dan emosional. Masyarakat modern memiliki hubungan kenetralan, yakni hubungan kerja yang tidak langsung, tidak mempribadi dan tidak berjarak. Parsons juga merumuskan hubungan kekhususan dan universal (particularistic dan universalistic). Masyarakat tradisional cenderung untuk berhubungan dengan anggota masyarakat dari satu kelompok tertentu. Sehingga ada rasa untuk memikul beban tanggung jawab bersama, sementara anggota masyarakat modern berkembang. Satu sama lain dengan batas norma-norma universal, lebih tidak terikat dengan tingkah laku kelompok dari kekhususan. Masyareakat tradisional biasanya memiliki kewajiban-kewajiban kekeluargaan, komunitas dan kesukuan (colective orientation). Parsons juga menyatakan bahwa masyarakat tradisional memandang penting status warisan dan bawaan (ascription). Sebaliknya masyarakat modern yang tumbuh dalam pasar persaingan yang ketat jauh lebih banyak memperhatikan prestasi (achievement). Selanjutnya Parsons menyatakan, bahwa masyarakat tradisional belum merumuskan fungsi-fungsi kelembagaannya secara jelas (funcionally diffused) dan karenanya akan terjadi pelaksanaan tugas yang tidak efisien, sebaliknya masyarakat modern telah merumuskan secara jelas tugas masing-masing kelembagaan (functionally specific).
Perbedaan kedua masyarakat tersebut, memudahkan untuk melakukan pemahaman tentang persepsi masyarakat dalam kehidupannya dari pengaruh modernisasi dan industrialisasi. Mereka yang lebih banyak mendapat pengaruh langsung atau lebih cepat menerima perubahan akan lebih tampak ciri-ciri masyarakat modern, dan sebagian yang belum terkena langsung atau sulit untuk menerima perubahan masih menunjukkan ciri masyarakat tradisional dan karena itu diharapkan masyarakat akan lebih maju bila memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi.
Menurut Inkeles (dalam Soekanto, 1983:21), tipe-tipe adaptasi kehidupan itu dikelompokkan dalam tiga golongan prasyarat yang menyangkut tipe-tipe adaptasi terhadap fakta dasar dari kehidupan, antara lain: (1) adaptasi terhadap lingkungan eksternal, fisik dan manusiawi; (2) adaptasi terhadap hakekat bio-sosial manusia, atau masyarakat tidak mungkin bertahan apabila tidak berhasil untuk memenuhi kebutuhan warganya yang juga menyangkut prasyarat fisik dan kebudayaan dan; (3) adaptasi terhadap kondisi kehidupan secara kolektif. Dorongan untuk memenuhi kebutuhan bio-sosial atau fisik mungkin merupakan penyebab keinginan manusia untuk hidup berkumpul dengan sesamanya.
Dengan demikian dalam kehidupan masyarakat tentunya tidak telepas dari kebudayaan kehidupan manusia seluruhnya. Salah satu unsur kebudayaan adalah kepercayaan, anggapan atau prinsip tertentu, di samping ada unsur lain, yaitu norma. Anggapan dan kepercayaan meliputi keadaan, sedang norma meliputi perbuatan, antara kedua unsur ini terdapat jalinan yang sangat erat (Soedjito, 1986:19). Fungsi nilai dalam hidup masyarakat menurut Laurence (dalam Soedjito, 1986:29) diperlukan untuk menentukan, tindakan atau sikap mana yang dianggap baik. Berdasarkan atas nilai inilah, maka disusun norma, yang menyatakan mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap kurang baik. Dengan demikian diharapkan masyarakat cepat tanggap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya dan dapat memilih budaya manakah yang bisa ditiru dan yang tidak.
Dalam masyarakat yang sedang mengalami transisi, seperti Masyarakat Jatiluhur, institusi sosial selalu dalam keadaan bergerak, seperti dikemukakan oleh Soedjito (1986:60) yang untuk institusi menggunakan kata lembaga. Lembaga selalu dalam keadaan bergerak, mekanisme masyarakat sendiri akan memberikan isi yang wajar kepada lembaga yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini sesuai dengan prinsip sibernika di dalam masyarakat berdasarkan atas hubungan fungsional antara kepentingan dan sikap jika kepentingan berubah maka sikap pun akan berubah.




1. Pola Lapangan Kerja
Perubahan pola lapangan kerja masyarakat Jatiluhur terlihat setelah adanya pabrik industri, khususnya industri tekstil, terutama setelah tahun 1990-an. Mata pencaharian penduduk setempat tidak hanya bertumpu pada pertanian tetapi beraneka ragam profesi dan keahlian, seperti buruh pabrik, jasa perdagangan dan membuka kursus keterampilan yang relevan dengan kegiatan industri. Hal ini sesuai dengan ciri-ciri masyarakat yang berada dalam proses industrialisasi antara lain: (1) masyarakat melakukan produksi; (2) pembagian kerja relatif kompleks dan; (3) tenaga kerja mempunyai keterampilan yang bermacam-macam.
Kehadiran industri tekstil akan membuka peluang bagi tenaga kerja, baik yang menganggur maupun setengah menganggur dan berasal dari daerah setempat maupun pendatang. Bekerja pada pabrik tekstil hal positif yang dapat dirasakan oleh masyarakat memberikan beberapa alasan antara lain: (1) dapat menambah jaringan sosial; (2) sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya; (3) dapat mengembangkan hobi yang dimiliki, terutama dalam bidang olah raga dan kerohanian; (4) tersedianya mess di sekitar lingkungan pabrik, baik untuk pekerja wanita maupun pekerja pria dan; (5) dapat bekerja sambilan di samping bekerja di pabrik, terutama bagi ibu rumah tangga yang berasal dari warga setempat yang bertugas sebagai cleaning service.
Alasan seseorang memilih pekerjaan tersebut, Stress dan Porter (1975) menjelaskan sebagai berikut: (1) bekerja mengandung makna kebersamaan atau memberi secara timbal balik. Apapun yang dikerjakan seseorang ia pasti menerima imbalan jasa yang diberikannya. Imbalan ini dapat bersifat intrinsik, seperti kepuasan pribadi yang dirasakannya telah memberikan jasa itu. Dalam dua hal itu seseorang melakukan pekerjaan yang mempunyai harapan pribadi mengenai jenis dan jumlah imbalan yang akan diperoleh dari jasa yang diberikan itu. Seberapa jauh harapan itu mempunyai kecenderungan untuk melanjutkan pekerjaan pada tingkat kegiatan yang serupa ataupun tidak; (2) bekerja mengandung fungsi sosial tempat bekerja, yaitu tempat ketemu dengan orang lain serta tempat membina persahabatan; (3) pekerjaan merupakan sumber status sosial dalam masyarakat. Karenanya berfungsi sebagai faktor penentu diferensiasi sosial dan juga sebagai faktor pembentuk kekompakkan sosial dan; (4) bekerja mengandung makna bersifat pribadi, yakni sebagai sumber identitas, harga diri dan tempat pembaktian kemampuan diri. Pekerjaan akan menimbulkan rasa puas ataupun menjadi sumber frustasi dan kebosanan.
Pada bagian lain dari tulisan, Stress dan Porter (1975) mengungkapkan tiga teori yaitu: status factor theories (teori kepuasan), incentive theories ( teori insentif) dan intrinsic theories (teori intrinsik). Teori kepuasan menjelaskan bahwa seorang pekerja yang merasa puas terhadap pekerjaannya akan bekerja lebih produktif atau sekurang-kurangnya mereka cenderung tetap bekerja di tempat itu (tidak berkeinginan untuk pindah pekerjaan). Teori insentif mendasarkan pada prinsip pemantapan (reinforcement), yaitu orang akan bekerja secara lebih produktif kalau diberi imbalan atau dorongan (mendapatkan hasil yang memuaskan). Dengan perkataan lain, teori ini menyatakan bahwa seseorang akan bekerja lebih produktif dalam pekerjaan apabila memperoleh imbalan (umpamanya uang) sesuai dengan yang diharapkannya. Sedangkan teori intrinsik mengetengahkan bahwa manusia akan bekerja lebih produktif kalau diberi pekerjaan yang bermanfaat dan diberi tanggung jawab dalam mengerjakannya.
Sebagai implikasi dari teori tersebut dapat digunakan sebagai bahan pemikiran agar tenaga kerja itu tetap mencintai pekerjaannya. Mengacu pada teori tersebut, maka tenaga kerja perlu mendapat perhatian dan motivasi agar merasa bangga atau puas sebagai pekerja, dan perlu ditunjukkan bahwa pekerjaan itu tidak lebih rendah dari pekerjaan lainnya, seperti guru, TNI, POLRI, petani, nelayan, buruh dan swasta. Namun, masalah yang ada pada tenaga kerja tampaknya tidak hanya berkaitan dengan nilai pekerjaan dan motivasinya dalam bekerja pada industri, melainkan yang lebih mendasar yang dihadapi oleh setiap tenaga kerja adalah luas pengetahuan yang dinilainya sudah tidak memadai lagi, atau berubah fungsi. Tenaga kerja kebanyakan adalah sekedar meneruskan usaha orang tuanya; sedangkan pekerja yang berpandangan sempit akan semakin tersisih.
Industri tekstil yang berada di Jatiluhur dapat melahirkan perluasan jaringan sosial, baik antara masyarakat setempat mapun dengan masyarakat pendatang. Karena mereka sangat menyadari bahwa manusia berfungsi sebagai makhluk sosial. Artinya tidak terlepas dari bantuan dan pertolongan orang lain. Hal ini ditandai dengan berdirinya rumah-rumah petak untuk disewakan, bermumculan biro-biro jasa, membuka kursus keterampilan. Alasan terjadi peningkatan mata pencaharian pada sektor jasa dan perdagangan antara lain: (1) agar bisa membantu mempermudah para pekerja pabrik untuk membeli barang atau makanan yang diperlukan; (2) bekerja sambil berjualan dan; (3) sarana untuk berjualan sudah disediakan oleh pemilik pabrik.
Dalam kaitannya dengan peningkatan mata pencaharian pada sektor jasa dan perdagangan, maka kepindahan mereka bukan hanya perubahan selera tetapi di sektor non pertanian memberikan kemungkinan atau peluang untuk kelangsungan hidupnya. Dengan adanya industri, sektor jasa perdagangan dan pembangunan gedung untuk perkantoran ataupun perumahan penduduk walaupun upah yang rendah sekalipun, merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi kelangsungan hidup mereka.
Adanya sebagian tenaga kerja yang motivasi, pendidikan dan taraf hidupnya rendah, disebabkan oleh karena mewarisi nilai hidup dari orang tua ataupun nenek moyang yang kurang mendukung tumbuhnya motivasi yang tinggi. Sebagaimana dikemukakan oleh De Jong (dalam Street dan Porter, 1975) bahwa masih banyak nilai-nilai hidup tradisional yang terus berkembang sekalipun sudah tidak sesuai lagi, seperti hidup harus pasrah, alon-alon waton kelakon dan lain-lain. Akibatnya banyak orang tidak bergairah bekerja keras, dan lebih senang pasrah (menerima apa adanya). Hasil penelitian Scihimura (dalam Soemardjan, 1983) di beberapa desa di Jawa memperlihatkan bahwa tujuan orang bekerja bukan untuk memperoleh uang atau semata-mata keuntungan, melainkan untuk mencapai kesempurnaan bagi kehidupan setelah mati.
Sesungguhnya nilai-nilai hidup tradisional yang masih dikembangkan tidak selalu bermakna negatif, tetapi orang memiliki sikap apriori dan tidak memahami kandungan makna yang sebenarnya. Antara lain seperti, alon-alon waton kelakon makna yang dimaksud agar orang setia pada tujuan; apapun yang terjadi tetap mengusahakan sampai tujuan tersebut tercapai. Contoh lain, perlunya orang memiliki timbal rasa, prinsip ini sering diartikan sebagai sikap yang tidak berani bertindak, pada hal makna yang dimaksud agar setiap orang menghormati satu sama lain, agar terjaga juga tercipta hubungan yang harmonis, tidak saling bermusuhan.


2. Pola Pengembangan Sumber Daya Manusia
Masyarakat yang bergerak menuju industrialisasi di samping meningkatnya jumlah spesialisasi pekerjaan juga status cenderung berdasarkan atas prestasi yang diperoleh, terutama melalui jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Hal ini juga terjadi pada masyarakat Jatiluhur yang tadinya status didasarkan atas asal usul orang tua kini mulai bergeser melalui prestasi. Artinya para orang tua tidak lagi mewariskan nilai-nilai seperti itu kepada anak-anak mereka, di mana rata-rata mereka menyelesaikan pendidikan sampai SLTA agar dapat bekerja di pabrik industri. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Selo Soemardjan (1983:53) bahwa ciri-ciri masyarakat modern antara lain: (1) hubungan antara manusia terutama didasarkan atas kepentingan pribadi; (2) hubungan dengan masyarakat lain dilakukan secara terbuka dalam suasana saling mempengaruhi; (3) kepercayaan kuat pada manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; (4) masyarakat mengelompok menurut macam-macam profesi serta keahlian masing-masing yang dapat dipelajari dan ditingkatkan dalam lembaga pendidikan, keterampilan dan kejuruan dan; (5) tingkat pendidikan formal adalah tinggi dan merata.
Berdasarkan pendapat tersebut maka mulai tampak kenyataan ini pada masyarakat Jatiluhur. Mereka mulai menyadari akan perlunya pendidikan, baik formal maupun non formal terutama bagi kelangsungan hidup anak-anak mereka yang ditandai dengan meningkatnya lulusan SLTA, terutama setelah berdirinya pabrik-pabrik tekstil. Walaupun ke sekolah cukup jauh, yakni mencapai 7-10 Km dari Kecamatan Jatiluhur ke Purwakarta. Begitu pula dengan bursa ketenaga kerjaan memperlihatkan besarnya pencari kerja lulusan SLTA, sarjana muda, dan sarjana jurusan tertentu. Di satu pihak tingfkat pendidikan di Jatiluhur pada umumnya rendah akan tetapi di pihak lain tenaga kerja terdidik sukar memperoleh pekerjaan yang s esuai. Tenaga lulusan dan putus sekolah umumnya usia muda, belum memiliki keterampilan khusus dan belum mempunyai pengalaman kerja. Mereka membutuhkan latihan khusus juga perlu menselaraskan pengetahuan dan pengalaman dengan dunia kerja.
Dalam jangka panjang diperlukan perencanaan dunia pendidikan yang berorientasi pada pasar kerja. Namun betapapun pendidikan formal direncanakan, sangat sulit untuk mampu menyediakan ketenaga kerjaan yang otomatis cocok dengan dunia kerja. Dunia pendidikan umumnya memerlukann waktu yang relatif panjang sedang teknologi berubah lebih cepat. Dunia pendidikan yang dirasakan cocok dengan teknologi sekarang, namun beberapa tahun mendatang sudah ketinggalan zaman. Di samping itu, sistem pendidikan tersebut sangat mahal, sedangkan relevansinya akan segera out of date. Oleh sebab itu perlu diambil langkah peningkatan dan pengembangan latihan kerja serta perlu ada peningkatan pembinaan terhadap lembaga latihan kerja serta perlu ada peningkatan pembinaan terhadap lembaga latihan swasta. Juga perlu dikembangkan sistem latihan untuk mandiri, yaitu melatih seseorang untuk mampu menciptakan pekerjaan sendiri. Dalam hubungan ini perusahaan besar diharapkan terus berpartisipasi dalam menyediakan fasilitas latihan, bukan saja cukup untuk memenuhi kebutuhan di perusahaan kecil yang tidak mampu menyediakan fasilitas latihan sendiri.
Orientasi pendidikan masyarakat Jatiluhur setelah tahun 1990-an mengalami beberapa perubahan, yang salah satunya ditandai dengan semakin banyaknya anak-anak tanatan Sekolah Dasar yang meneruskan ke Sekolah Menegah Pertama, Sekolah Menegah Atas ataupun kejuruan bahkan sampai Perguruan Tinggi. Hal ini membuktikan bertambah besarnya kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Karena mereka mempunyai keyakinan bahwa pendidikan merupakan investasi yang sangat berharga di masa mendatang juga merupakan suatu sarana yang utama untuk membuka kesempatan baru terutama menyangkut perbaikan nasib anak-anak mereka.
Dalam menganalisis pergeseran orientasi pendidikan masyarakat sesudah dan sebelum adanya industri tekstil dikemukakan oleh Soedjatmoko (1990) antara lain: (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka yang sudah keluar dari lembaga pendidikan (lulusan maupun putus sekolah) sehingga dapat memasuki lapangan kerja; (2) meningkatkan pengetahuan dan teknologi tenaga kerja yang sudah bekerja; (3) menyiapkan generasi yang akan datang agar mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan, baik ekonomi maupun sosial. Selanjutnya pendidikan macam apa yang diperlukan pada masa mendatang yakni lebih menyangkut “spirit” jiwa pendidikan. Pertama cara mendidik harus mengakui dan menerima individualitas setiap anak didik dan mencoba merangsang mereka untuk berpikir sendiri secara kritis dan kreatif. Selanjutnya yang harus diutamakan ialah bukan soal ahli pengetahuan melainkan peningkatan kemampuan belajar bangsa dan belajar seumur hidup tanpa hentinya. Sistem pendidikan perlu disesuaikan dengan keperluan industrialisasi yaitu proporsi sarjana teknik untuk mengisi keperluan dalam usaha industrialisasi serta berbagai bidang ilmu dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling besar dampaknya atas perkembangan masyaraktaat dan keadaan manusia dalam pembangunan yang akan datang, adalah bidang bioteknologi makro, elektronika dan informatika.

3. Pola Kehidupan Keluarga
Kehidupan keluarga pada hakekatnya merupakan suatu ikatan persekutuan hidup yang terjalin atas dasar suatu perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita, mereka hidup bersama-sama dengan anak-anaknya dalam suatu rumah tangga. Begitu pula halnya dengan masyarakat Jatiluhur yang semula merupakan keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak, terutama setelah wilayah ini menjadi sentra industri mengalami beberapa perubahan, salah satunya menjadi keluarga besar. Artinya disamping ayah, ibu, dan anak-anak mereka juga ditambah dengan keberadaan keponakan, sepupu, ipar dan juga kerabat dekat lainnya. Tujuannya di samping untuk memudahkan pergi ke tempat bekerja juga untuk menghemat pengeluaran keuangan dibanding ngontrak rumah milik orang lain yang tentunya memerlukan biaya yang cukup besar. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Pasaribu dan Simandjuntak (1982:67) bahwa modernisasi maupun industrialisasi berpengaruh terhadap pola kehidupan keluarga seperti dalam hal sekuritas, proteksi anggota, aspek rekreasi dan aspek afektifnya.
Perubahan sosial yang terjadi dalam era globalisasi dan industrialisasi juga berjalan secara wajar dan tidak bisa ditolak, gambaran dari perubahan keluarga manurut Moore (1973:2) bercirikan antara lain: (1) bagi kehidupan keluarga, perubahan cepat berlangsung atau berlaku secara tetap; (2) perubahan itu bersifat sementara maupun terpencil secara spatial, karena perubahan terjadi dalam rangkaian runtut bukan sebagai krisis sementara yang diikuti oleh masa rekonstruksi diam-diam, dan akibat perubahan cenderung bergema ke seluruh kawasan masyarakat; (3) karena perubahan pada masa itu mungkin berlaku dan akibatnya bermakna di manapun, maka perubahan tersebut memiliki azas ganda; (4) proposisi perubahan semasa yang berencana, atau isu-isu akibat inovasi yangs engaja dilaksanakan akan lebih tinggi proporsinya dibandingkan pada masa lalu; (5) lingkup teknologi materi dan strategi sosial menyebar pesat yang akibat bersihnya adalah bertambah secara kumulatif walaupun beberapa tatacara atau prosedur relatif lebih cepat menjadi basi; (6) kejadian normal dalam perubahan mengakibatkan bagi suatu pengalaman individu yang lebih luas dan aspek fungsional masyarakat dalam dunia modern bukan karena masyarakat seperti itu lebih terintegrasi dalam banyak hal, tetapi karena tidak ada gambaran tentang ciri hidup yang bebas dari kebiasaan perubahan.
Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, maka perubahan yang berarti dalam kehidupan keluarga selama berdirinya pabrik-pabrik tekstil adalah di samping dapat meningkatnya pendapatan keluarga juga terjadi perubahan waktu yang dipergunakan sehari-hari. Maksudnya adalah bagi para pekerja pabrik termasuk anggota keluarganya harus memperhitungkan jam kerja pabrik berdasarkan shift yang sudah diatur dan kerja lembur bagi mereka yang sudah melebihi 40 jam dalam seminggu.

PENUTUP

Dari penjelasan di atas kiranya dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Industrialisasi telah memberikan dampak terhadap pola lapangan kerja yang diawali dengan meningkatnya kebermaknaan pada lingkungan dan meningkatnya perluasan jaringan sosial juga meningkatnya penyerapan lapangan kerja di sektor industri kemudian diikuti dengan meningkatnya persentase penduduk yang bermata pencaharian pada sektor jasa dan perdagangan.
2. Industrialisasi berdampak terhadap pola kehidupan keluarga ditandai dengan meningkatnya beban keluarga, meningkatnya dinamika kehidupan dan pendapatan keluarga kemudian meningkatnya jumlah anggota keluarga, meningkatnya kualitas kehidupan serta jumlah penghasilan yang diterima oleh masyarakat. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat meningkat yang sejalan dengan pola perilaku masyarakat yang maju.
3. Industrialisasi memberikan dampak terhadap pola pengembangan sumber daya manusia yang ditandai dengan perubahan masa pendidikan yang diselesaikan oleh anggota keluarga dan perubahan reorientasi tujuan pendidikan yang diikuti oleh peningkatan jumlah lulusan pendidikan formal maupun non formal dan terjadi pergeseran orientasi pendidikan yang diikuti oleh peningkatan jumlah lulusan pendidikan formal maupun non formal dan terjadi pergeseran orientasi pendidikan yang dapat mendorong bagi percepatan masyarakat menuju industrialisasi.




DAFTAR PUSTAKA


Dharmawan, A. 1986. Aspek-Aspek dalam Sosiologi Industri. Bandung: Binacipta.

Garna, Yudistira K. 1997. Teori Pembangunan menurut Perspektif Dunia Ketiga. Bandung: Primaco Akademika.

_________________ 1999. Teori Sosial dalam Pembangunan Indonesia. Bandung: Primaco Akademika.

Hagen, E. 1966. On the Theory of Social Change. Illinois: The Dorsey Press.

Huntington, Sammuel P. 1986. Political Order in Changing Societies. New Hoven: Yale University Press.

Inkeles. A. 1973. Modernisasi Manusia dan Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Lavner. 1989. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Jakarta: Gramedia.

Moore, Wilbert E. 1973. Social Change. Englewood Cliffs: Prentice Hall.

Nazir, Moh. 1985. Metode Penelitian. Jakarta: Balai Aksara.

Komara, Endang. 2004. Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Multazam.

Rostow, W.W. 1966. Tahap-Tahap Pertumbuhan Ekonomi. Diterjemahkan oleh Sitohang Paul. Jakarta: Bharata.

Rusidi. 1993. Pedoman Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Jatinangor: IKOPIN.

Sidney, Siegel. 1985. Nonparametric Statistic For The Behavioral Sciences. Terjemahan Peter Hagul. Jakarta: Gramedia.

Simandjuntak, Pasaribu. 1982. Sosiologi Pembangunan. Bandung: Tarsito.

Soedjatmoko. 1990. Manusia Indonesia Menjelang Abad Ke-21 dan Persiapannya. Prospek No. 1 Volume 2 Tahun 1990.

Soedjito, S. 1986. Transformasi Sosial Menuju Masyarakat Industri. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Soemardjan, Selo; Soelaiman Soemardi. 1983. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Rajawali Press.

Stress, Porter. 1975. Motivasi dalam Abdul Karim Sahidu. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

Suwarsono, Alvin Y.S.O. 1991. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: LP3ES.

Tan. 1977. Understanding Data. Toronoto: McGraw-Hill.

Weber, Max. 1930. The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism. New York: Charles Scribner’s Sons.

Wield, D. 1983. Industrial Production: Factories and Worker dalam Sociologi New Dierction. England: Cause Way Press Ltd.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar