Minggu, 16 Maret 2014

PENDIDIK PEMIMPIN, PEMIMPIN PENDIDIK

Endang Komara (Ketua Prodi Magister Pendidikan IPS STKIP Pasundan dan Sekretaris Korpri Kopertis Wilayah IV) Sebuah kata bijak mengatakan bahwa: ‘’Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’’. Artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu. Peningkatan mutu bermuara pada suatu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru. Guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Hebat atau rusaknya pemimpin baru yang dilahirkan sangat dipengaruhi oleh sosok guru. Indonesia merupakan negara yang sedang mengalami perkembangan dari segi sistem pendidikan. Anak muda Indonesia tiba-tiba terjebak kasus narkoba, melakukan seks bebas, tawuran, murid tidak patuh pada gurunya, , murid melawan pada gurunya, seolah tidak ada didikan kedisiplinan dari sang guru. Para figur publik idola mereka tak konsisten memberikan keteladanan, akibatnya anak muda zaman sekarang menjelajah sendiri model yang diciptakan kelompok mereka sendiri untuk memuaskan hasrat pencarian jati diri mereka. Melihat kondisi pemuda Indonesia yang seperti ini, tidak ada yang patut menjadi idola dan teladan bagi mereka adalah guru. Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru mempunyai tiga peran, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai pendidik dan guru sebagai pemimpin. Guru sebagai pengajar, dalam konsep pertama guru pengajar adalah guru yang mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa sehingga pada batasan ini hanya pada tataran transfer of knowledge. Kedua adalah guru sebagai pendidik, bila dibandingkan pada kategori pertama karakter guru dalam tataran ini tidak hanya sebatas pada transfer of knowledge tetapi juga transfer of value, penanaman nilai kepada siswa menjadi aspek penting karena pengetahuan tidak akan seimbang bila sikap arif dalam diri dikebiri, dan karakter yang terakhir yaitu guru sebagai pemimpin merupakan guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya. Guru itu pemimpin. Meski bukan seorang bintang idola, tapi sadarlah bahwa guru bias melahirkan bintang-bintang idola yang akan menjadi generasi pengganti dan berjiwa pemimpin. Pemimpin bicara soal ide dan harapan masa depan. Idenya tentu tidak hanya bagaimana meraih status pegawai negeri sipil, mendapat tunjangan sertifikasi guru, meraih jabatan structural, dan kenikmatan untuk memuaskan diri sendiri. Gur pemimpin, pagham manfaatnya sangat besar untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Ide dan harapannya tak berorientasi aku, tapi mereka, anak-anak muda Indonesia yang mesti tumbuh berkembang jiwa-jiwa kepemimpinannya. Hidup yang merdeka adalah ciri seorang guru pemimpin. Mereka tak takut dengan atasan. Mereka taksilau dengan harta dan jabatan. Hanya satu yang mereka takutkan, cara berpikir dan bersikapnya jauh dari nilai-nilai kebenaran. Satu hal yang patut dicermati, guru memang takkan pernah jadi pemimpin jika dia miskin integritas. Karena miskin integritas, guru tak memiliki charisma dan inspirasi di mata murid-muridnya. Jika gur sudah tak inspiratif bagi murid, maka konsepsi guru sebagai sosok pemimpin yang setia memberikan keteladanan. Sejalan dengan hal tersebut, maka George R. Terry (2006:124) mengemukakan delapan ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu, pertama energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik. Kedua, stabilitas emosi, tidak boleh mempunyaib prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar. Ketiga, mempunyai pengetahuan tentang hubungan antar manusia. Keempat, motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri. Kelima, kemampuan berkomunikasi atau kecakapan berkomukasi dan atau bernegosiasi. Keenam, kemampuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan. Ketujuh, kemampuan social atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, luwes dalam bergaul. Kedelapan, kemampuan teknis, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mengambil keputusan dfan mampu menyusun konsep. Kepemimpinan yang berhasil di abad globalisasi menurut Dave Ulrich (1999) adalah: ‘’Merupakan pertalian antara kredibilitas dan kapabilitas’’. Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bias dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya. Sedangkan kapabilitas adalah kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah kepemimpinannya. Kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin yang menunjukkan kompetensi seperti mempunyai kekuatan keahlian (expert power) disamping adanya sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang positif (moral character) bila dikaitkan dengan kemampuan memimpin dalam menata visi, misi dan strategi yang jelas akan merupakan suatu kekuatan dalam menjalankan roda organisasi dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebaagaimana dalam firman-Nya: ‘’Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.’’ (QS. Al-Ahzab:21). Sebenarnya setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirnya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya: ‘’Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya.’’ (Al-Hadist). Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kiurangnya empat sifat dalam menjalankan kepemimpinnannya, yakni: Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF). Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya. Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi. Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya. Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya. Selain itu juga Nabi Muhammad Saw pernah bersabda: ‘’Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.’’ Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju. Pemimpin pendidik sekurang-kurangnya memiliki empat syarat yang harus dipenuhi. Pertama, memiliki aqidah yang benar (aqidah salimah), kedua memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas (ilmun wasi’un), ketiga memiliki akhlak yang mulia (akhlaqulkarimah), keempat memiliki kecakapan manajerial dan administratif dalam menjalankan tugas profesinya. DAFTAR PUSTAKA Affandi, Idrus. 2013. Idealis, Pragmatis, dan Religius. Bandung: Mutiara Press. Budimansyah, Dasim, dan Kokom Komalasari (Ed). 2011. Pendidikan Karakter: Nilai Inti Bagi Upaya Pembinaan Kepribadian Bangsa Penghargaan dan Penghormatan 70 tahun Prof. dr. H. Endang Somantri, M.Ed. Bandung: Widya Aksara Press. David Ulrich. 1999. Human Resource Champions: The Next Agenda fo Adding Value and Delivering Results. USA: Harvard Business School Press. George R. Terry. 2006. Dasar-Dasar Manajemen: Bisnis, Manajemen & Keuangan, Manajemen & Leadership. Jakarta: Bumi Aksara. Komara, Endang. 2014. Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung. Refika Aditama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar