Sabtu, 19 September 2015

MEMAKNAI IDUL ADHA & AKHLAQUL KARIMAH

Sejarah Idul Adha dijelaskan dalam Qur’an surat As Shoffat ayat 102 yakni saat Ismail berusia remaja, ayahnya Ibrahim memanggil Ismail (anaknya Ibrahim) untuk mendiskusikan sesuatu. Ibrahim menceritakan kepada Ismail bahwa Ibrahim telah mendapatkan perintah dari Allah melalui mimpi untuk menyembelih Ismail. Dari sini, Ibrahim menanyakan kepada Ismail: ‘’Bagaimana menurutmu, wahai Ismail?’’. Lantas Ismail menjawab: ‘’Wahai ayah laksanakan perintah Allah yang dimandatkan untukmu. Saya akan sabar dan ikhlas atas segala yang diperintahkan Allah,’’Ujar ismail kepada ayahnya, Ibrahim. Dalam hal ini, Ibrahim mengkonfirmasikan mimpinya jangan-jangan mimpinya datang dari Setan. Ternyata tidak, Ibrahim mendapatkan perintah dari Allah sebanyak 3 (tiga) kali melalui mimpi. Setelah mendapatkan petunjuk dan yakin bahwa itu adalah perintah Allah, maka Ibrahim dengan ikhlas akan menyembelih puteranya sendiri, yaitu Ismail. Setelah Ibrahim dan Ismail kedua-duanya ikhlas untuk menjalankan perintah Allah, ternyata Allah mengganti Ismail menjadi domba. Dari peristiwa ini, sudah mulai bisa diketahui arti, makna dan hakikat Idul Adha. Arti kata Idul Adha ada 2 (dua) makna. Pertama, arti qurban adalah dekat yang diambil dari bahasa Arab Qarib. Pandangan umum mengatakan bahwa qurban adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kedua, arti qurban adalah udhhiyah atau bisa dikatakan dhahiyyah yang artinya adalah hewan sembelihan. Dari arti makna qurban ini, maka menjadi tradisi sebagaimana lazim dilakukan umat muslim di dunia untuk menyembelih hewan dengan cara kurban atau mengorbankan hewan yang menjadi sebagian hartanya untuk kegiatan sosial. Menurut Lismanto (2014), bahwa tradisi kurban dalam hari raya Idul Adha memiliki 2 (dua) dimensi. Pertama, makna qurban memiliki dimensi ibadah spiritual. Kedua, makna qurban punya dimensi sosial. Dimensi ibadah spiritual merupakan bentuk ketaatan hamba kepada Tuhannya. Ketaatan itu harus dilandasi dengan rasa ikhlas sepenuhnya. Sehingga kita menjadi dekat dengan Allah. Hal inilah yang dimaksud dengan qurban dalam pengertian ibadah, yakni qarib. Sedangkan dimensi sosial dalam tradisi qurban bahwa ibadah qurban memberikan kesejahteraan kepada lingkungan sosial berupa daging qurban yang notabene hanya bisa dijangkau kalangan elite. Ini berlaku di desa, bukan kota-kota yang sudah terbiasa makan daging. Dengan qurban dari perspektif sosial, ini menjadi bagian dari ketakwaan kita kepada Allah secara horizontal. Hakikat qurban adalah bahwa kita harus kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Karena manusia dan jin tidaklah diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana ujian Allah kepada nabi Ibrahim, hikmah dari segala peristiwa qurban adalah untuk memperoleh ridha Allah melalui ibadah dengan menjalankan apa yang menjadi perintah Allah. Namun, tidak sekadar ibadah, kita harus ikhlas dalam menjalankan setiap perintah Allah. Inilah hakikat dari peristiwa qurban dalam Idul Adha. Sebagaimana arti kata qurban yang bermakna qarib atau dekat kepada Allah, maka hakikat qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-nya. Karena itu, makna qurban dalam pengertian Islam adalah bentuk pendekatan diri kita kepada Allah melalui lantaran hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih. Dengan begitu, kita merelakan sebagian harta kita yang sebetulnya milik Allah untuk orang lain. Ini menjadi bagian dari ketaatan kita kepada Allah. Syaratnya, dalam qurban kita harus benar-benar untuk mencari ridha Allah, bukan untuk yang lain. Inilah hakikat qurban dalam Islam yang sebenarnya. Akhlaqul Karimah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan kesempurnaan iman seseorang kepada Allah Swt. Pandangan Al-Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato. Plato mengatakan bahwa orang utama itu adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus seperti ahli seni yang selalu melihat contoh-contoh bangunan. Al-Ghazali memandang bahwa orang yang dekat kepada Alah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna. Di sini terlihat adanya titik persamaan pandangan Al-Ghazali dengan Plato tentang taqarrub atau mendekat kepada Tuhan, yang salah satunya adalah melalui ibadah qurban. Al-Ghazali ( M. Yatim Abdullah, 2007) menerangkan 4 (empat) pokok keutamaan akhlak yang baik yaitu: Pertama, mencari himah. Himah adalah keutamaan yang lebih baik. Ia memandang bentuk hikmah yang harus dimiliki seseorang, yaitu jika berusaha untuk mencapai kebenaran dan ingin terlepas dari semua kesalahan. Kedua, bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan amarahnya dengan akal untuk maju. Orang yang memiliki akhlak baik biasanya pemberani, dapat menimbulkan sifat yang mulia, suka menolong, cerdas, dapat mengendalikan jiwanya, suka menerima saran dan kritik orang lain, penyantun, memiliki perasaan kasih dan cinta kepada sesama. Ketiga, bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu sifat yang dapat mengendalikan syahwatnya dengan akal dan agama. Orang yang memiliki sifat fitrah dapt menimbulkan sifat pemurah, pemalu, sabar, toleran, sederhana, suka menolong, cerdik dan tidak rakus. Fitrah merupakan suatu potensi yang diberikan Allah, dibawa oleh manusia sejak lahir yang menurut tabiatnya cenderung kepada kebaikan dan mendorong manusia untuk berbuat baik. Keempat, berlaku adil. Adil yaitu seseorang yang dapat membagi dan memberi haknya sesuai dengan fitrah-nya atau seseorang mampu menahan kemarahannya dan nafsu syahwatnya untuk mendapatkan hikmah di balik peristiwa yang terjadi. Adil juga berarti tindakan keputusan yang dilakukan dengan cara tidak berat sebelah atau merugikan satu pihak tetapi saling menguntungkan. Orang yang mempunyai akhlak yang baik dapat bergaul dengan masyarakat secara luwes, karena dapat melahirkan sifat saling cinta-mencintai dan saling tolong-menolong. Sebaliknya orang yang tidak memiliki akhlak yang baik, tidak dapat bergaul dengan masyarakat secara harmonis, karena sifatnya dibenci oleh masyarakat umumnya. Akhlak yang baik bukanlah semata-mata teori yang muluk-muluk, melainkan akhlak sebagai tindak tanduk menusia yang keluar dari hati. Akhlak yang baik merupakan sumber dari segala perbuatan yang sewajarnya. Suatu perbuatan yang dilihat merupakan gambaran dan sifat-sifatnya tertanam dalam jiwa yang baik atau sebaliknya. Ibadah qurban adalah binatang yang disembelih pada musim haji, adalah sebagai wujud pendekatan kepada Sang Pencipta Allah Swt, sebagai tebusan dan jiwa yang berhak untuk binasa, sebagai fidyah dan pengganti serta pendekatan kepada-Nya. Juga untuk meneladani imam orang-orang yang bersikap lurus (Nabi Ibrahim AS) dan menghidupkan sunnahnya karena ia telah mempersembahkan anaknya kepada Allah dengan penuh kerelaan dan pengorbanan. Kemudian Allah pun menetapkan itu untuk terus berlaku selamanya bagi anak cucunya. *** Semoga ***.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar