Jumat, 26 Juli 2013

MEMAKNAI FENOMENA MUDIK LEBARAN

Mudik adalah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain itu tentunya juga sowan dengan orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia dan tidak di kenal di negara-negara lain, seperti halnya di Malaysia dan Brunei Darussalam. Sebuah gejala unik terjadi setiap tahunnya di Indonesia, yang mana secara budaya sangat sakral untuk umat Muslim sehingga tak satupun orang Muslim mau melewatkannya. Setelah berpuasa sebulan ini di bulan Suci Ramadhan 1434 H, ada hadiah besar untuk setiap orang Muslim yakni Lebaran atau Idul Fitri di mana semua orang saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuatnya. Pemudik rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta api, atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor dan macet berjam-jam di jalanan merupakan kejadian yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka kerepotan, penderitaan dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak dianggap ada masalah setelah mereka bertemu dengan anggota keluarganya. Dalam kenyataannya, perjalanan panjang selama mudik sering menjadi cerita yang menarik untuk diceritakan kepada keluarganya. Pepatah Tionghoa mengatakan: ‘’Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya akan kembali ke sarangnya’’. Hal ini dirasakan sekali pada saat menjelang hari raya Idul Fitri (Lebaran), dimana banyak sekali orang kejangkitan penyakit ‘’Rindu Mudik’’. Rindu ini bukan hanya dirasakan oleh Umat Muslim saja melainkan oleh hampir semua orang Indonesia yang berada di rantau, entah ia berada di New York, Amsterdam, Hongkong maupun di Jakarta. Rasa rindu yang dirasakan oleh mereka yang tinggal di Hong Kong maupun di Jakarta sama yang beda hanya jaraknya saja. Pada saat kita rindu mudik, kita teringat akan kampung halaman dan orang-orang yang kita kasihi, hal ini membuat kita jadi sedih, sakit dan dan ingin berkumpul dengan mereka. Oleh sebab itulah dalam bahasa Spanyol rindu mudik ini di sebut ‘’el mal de corazon’’ = sakit hati. Kita teringat akan kampung halaman, orang tua, masa-masa yang indah di waktu kecil. Pada saat kita masih kecil, mungkin kita harus hidup dengan segala keterbatasan, tetapi kalau saya jujur itu, bagi saya masa tersebut adalah masa yang paling indah di dalam kehidupan saya. Ingatan saya ketika masa tersebut adalah : ‘’Woouooo … w… fantastic, its wonderfull, if we wanna to remember our childhood!’’. Mungkin sebagian kita masih ingat ketika masa sekolah SD, SMP maupun SMA, nonton bioskop, mincing ikan, bermain di waktu hujan turun. Memang kalau dibandingkan dengan permainan anak-anak zaman sekarang, ini tidak ada apa-apanya, tetapi bagi sebagian orang masa tersebut mempunyai nilai yang sangat indah dan tak terlupakan. Jadi rindu mudik tersebut bisa disamakan juga dengan rindu akan masa lampau – Nostalgia. Kata Nostalgia itu diserap dari dua kata dalam bahasa Yunani ‘’Notos’’ = kembali ke rumah dan ‘’algos’’ = sakit atau rindu. Ridu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman ‘’Heimweh’’. Weh = sakit, Heim = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga. Kata Mudik diserap dari kata ‘’Udik’’ yang berarti desa atau jauh dari kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita oleh sebab itu entah tinggal di rumah mewah yang bernilai ratusan milyar ataupun bermukim di Amsterdam ataupun Holywood sekalipun, ini tidak akan bisa menggantikan suasana seperti rumah di kampung halaman sendiri, walaupun itu di udik sekalipun juga. Jadi tepatlah pada saat kita sedang rindu mudik, kampung halaman itu bagi kita sama seperti juga ‘’surga’’. Pada saat tersebut mungkin merasa iri terhadap mereka yang bisa pulang mudik ke kampung halamannya. Di Eropa, penyakit rindu mudik ini lebih dikenal dengan sebutan ‘’penyakit orang Swiss’’. Masalahnya sejak abad ke-15 banyak sekali pemuda di Swiss yang bekerja sebagai tentara bayaran di Italy, Perancis, Jerman maupun Belanda. Mereka itu adalah serdadu bayaran pertama, oleh sebab itu juga sampai saat ini di Vatikan masih tetap mengerjakan para serdadu Swiss. Kelemahan dari para serdadu Swiss itu mereka sering rindu mudik. Hal ini membuat banyak serdadu tersebut yang sering minggat maupun bunuh diri. Maka dari itu pada abad ke-18 di Perancis orang akan dihukum mati apabila berani menyanyikan atau bersiul lagu kampungnya orang Swiss ‘’Kuhreihen’’ (Ranz de Vaches), mereka takut para serdadu bayaran mereka minggat. Apakah efeknya sama; seperti kalau orang Jawa mendengar lagu ‘’Bengawan Solo’’? Maka dari itu juga banyak orang Indonesia dirantau senang mendengar lagu musik Keroncong untuk mengurangi rasa rindu mudik. Kenapa orang Jawa lebih sering rindu mudik? Mungkin karena dalam bahasa Jawa kata ‘’dalem’’ berarti ‘’saya’’ dan kata ‘’dalem’’ itu juga identik dengan ‘’tempat tinggal’’. Mungkin kita bisa merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman dan lebih berlimpah ruah di tanah orang, tetapi materi tidak akan bisa menggantikan maupun mengisi kekosongan maupun kesepian diri dan batin kita. Semakin lama kita berada di tanah orang semakin terasakan kekosongan jiwa kita, sama seperti juga handphone yang kehabisan batterie. Pada saat kita mudik, kita bisa nge-charge kembali batin dan kekosongan jiwa kita. Kita bisa mendapatkan kembali siraman rasa kasih dari orang di sekitar kita untuk mengembalikan kembali kegersangan, kekosongan maupun kesepian hidup kita dirantau. Sama seperti juga pada saat mengisi batterie; ini tidak harus berbulan-bulan walaupun hanya seminggu atau beberapa hari sekalipun juga, hal ini sudah dapat mengembalikan kembali keseimbangan jiwa kita. Entah kita ini seorang pejabat tinggi, direktor maupun pengusaha, ketika dirantau kita tetap saja Mr. Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi di kampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara maupun anak. Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan. Fenomena mudik merupakan ajang tali silaturahmi, karena mereka selama satu tahun atau lebih berpisah kini dapat berkumpul, bercengkrama, bersandau gurau, serta melepas rindu antar saudara dan kerabat. Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita. Bagi mereka yang tidak begitu bahagia sehingga tidak bisa mudik, mungkin masih tetap bisa bersilaturahmi melalui surat, chatting, email, video maupun telepon, sebab kata arti sebenarnya dari silaturahmi adalah mendekatkan hubungan kekeluargaan dari segi aspek psikologis atau rohani saja, tanpa kehadiran jasmani dan fisik. Beda ‘’silaturahim’’ sebab kata tersebut mengandung makna lebih dalam. Kata ‘’rahim’’ berarti menyertakan jasmani dan rohani. Manfaat silaturahim sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Syihab berkata, Anas bin Malik telah mengabarkanku bahwa sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: ‘’barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung tali silaturahmi’’. (HR. Bukhori). Silaturahmi adalah menyambung tali persaudaraan sesama kerabat dekat dan berbuat baik terhadap mereka, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama. Kita juga dianjurkan bersilaturahmi terhadap sesama teman, mitra kerja dan tetangga kita. Silaturahmi dapat menepis dari kemiskinan dan kesengsaraan. Orang yang menjalin silaturahmi akan diluaskan rizkinya. Rizkinya melimpah tidak akan kekurangan. Berkat silaturahmi pula, Allah Swt akan menghilangkan berbagai kesulitan dari apa yang dihadapinya. Melimpahnya rizki bukan saja dialami oleh orang yang berbuat baik, melainkan terhadap orang yang berbuat maksiat pun akan tetap rizkinya berkembang dan bertambah. Itulah keberkahan silaturahmi. Selain itu, silaturahmi juga akan mendatangkan umur panjang. Artinya umurnya akan bermanfaat, diisi dengan berbagai amal yang bermanfaat. Orang yang silaturahmi akan produktif, bermanfaat bagi orang lain, selalu diliputi oleh kesenangan dan kebahagiaan. Orang yang sering bersilaturahmi juga akan banyak dikenang kebaikannya, walaupun orang tersebut telah meninggal. Selalu dibicarakan dan disebut-sebut oleh keluarganya. Inilah hikmah silaturahmi: diluaskan rizkinya, dikenang kebaikannya, dipanjangkan umurnya, khusnul khatimah, dicintai dalam keluarga dan juga merupakan kunci masuk syurga. Mudah-mudahan mudik tahun ini lebih aman, tertib dan nyaman sehingga tercipta mudik yang sebenarnya yakni kembali ke kampung rohani dan mudah-mudahan Allah Swt akan mempertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya. ***Semoga. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar